
Jakarta, CNN Indonesia —
Publik belakangan dihebohkan dengan hilangnya tumbler Tuku milik Anita Dewi, seorang penumpang KAI Commuter Line trayek Tanah Abang – Rangkasbitung.
Hilangnya tumbler itu menjadi sorotan publik usai disebut berbuntut menjadi pemecatan seorang petugas KRL bernama Argi.
Semuanya bermula saat Anita lewat akun Threads-nya @anitadwdl menuliskan kronologi kehilangan tumbler Tuku tersebut dan menuding petugas tidak bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penjelasannya, Anita mengaku lupa hingga tasnya tertinggal di kereta Commuter Line rute Tanah Abang-Rangkasbitung. Peristiwa ini terjadi pada Senin (24/11), awal pekan.
Setelah melapor pada petugas keamanan di Stasiun Rawa Buntu, tas Anita berhasil ditemukan petugas di gerbong khusus wanita.
Petugas sempat mengirimkan foto kondisi tas berikut isinya, termasuk tumbler Tuku yang dimaksud.
Karena soal prosedur, tas itu harus diambil di Stasiun Rangkasbitung. Ketika Anita mengambil tas keesokan hari bersama suaminya, tumbler Tuku tersebut sudah tidak ada. Ia kemudian menuliskan kekecewaannya atas kelalaian petugas KRL sampai akhirnya berujung viral.
Sementara itu, petugas KRL bernama Argi memberikan klarifikasi melalui Threads bahwa ia menerima tas tersebut dari petugas lain dan meletakkannya di ruang jaga karena kondisi stasiun sedang ramai. Ia mengaku tak sempat mengecek isi tas.
Argi juga sudah berinisiatif menawarkan penggantian tumbler Tuku tersebut, namun Anita dan suaminya menolak dan tetap membawa kasus ini ke media sosial.
Dalam pesan yang dikirimkan ke suami Anita, Argi mengungkapkan bahwa ia bukan pelaku yang mengambil tumbler tersebut dan sangat terpukul karena satu-satunya sumber pendapatannya hilang setelah unggahan itu viral.
Usai isu itu menjadi viral, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membantah kabar pemecatan Argi tersebut. Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menyampaikan masih melakukan penelusuran lebih dulu untuk memastikan kejadian sebenarnya.
Karina menegaskan KAI Commuter tidak melakukan pemecatan sebagaimana isu beredar, karena memiliki aturan dan prosedur terkait kepegawaian yang tetap mengacu pada regulasi ketenagakerjaan.
“Sebagai tahap awal, tentunya kami melakukan koordinasi kepada pihak mitra pengelola petugas front liner,” kata Karina dalam keterangannya, Kamis (27/11).
Argi juga mendapat dukungan dari masyarakat luas pada kasus ini. Berawal di media sosial, dukungan itu juga diberikan dalam bentuk papan bunga yang ditaruh di stasiun, salah satunya di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan pada Kamis (27/11) malam kemarin.
Setelah viral dan menjadi bulan-bulanan netizen, Anita dan suaminya, Alvin Harris muncul ke publik melalui video yang diunggah ke Instagram untuk meminta maaf.
Dalam video itu, mereka mengaku tak bijak dalam bersikap, sehingga berdampak bagi banyak orang.
“Kami meminta permohonan maaf yang sebesar-besarnya khususnya kepada saudara Argi dan semua pihak terkait yang terkena dampak dan dirugikan atas ucapan dan perbuatan kami berdua,” kata pasangan suami istri itu setelah Instagram mereka kembali terbuka untuk publik.
Setelahnya, Anita-Alvin dan Argi melakukan mediasi. Dalam kesempatan itu, Anita kembali meminta maaf buntut kegaduhan yang ia buat.
Alvin menyampaikan kegaduhan di media sosial berdampak panjang ke sejumlah pihak. Ia mengatakan kasus ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Saya selaku yang memposting tersebut meminta maaf sebesar-besarnya, atas kejadian ini saya dan Mas Argi sudah saling memaafkan,” ujar Anita.
Sementara itu, Argi menyampaikan permintaan maaf ke Anita. Ia juga membantah kabarnya dipecat sekaligus menegaskan hingga kini masih bekerja sebagai Passenger Service di Stasiun Rangkasbitung.
“Saya Argi masih dipekerjakan di KAI Wisata di bagian Passenger Service KRL di Rangkas dan minta maaf kepada Mas Alvin dan Mbak Anita bilamana ada salah kata maupun perbuatan saya,” ucap Argi.
Kasus ini ternyata juga berdampak pada karier Anita dan Alvin. Anita dipecat perusahaan tempatnya bekerja usai curhatannya viral di media sosial.
PT Daidan Utama, perusahaan pialang asuransi tempat Anita bekerja mengumumkan pemecatan Anita lewat akun Instagram resmi @daidanutama pada Kamis, kemarin (27/11).
Manajemen mengklaim telah melakukan proses investigasi mengenai kasus hilangnya Tumbler Anita di KRL yang berujung pemecatan petugas KAI. Hasilnya, mereka mengambil pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap Anita.
Langkah pemecatan diambil Daidan Utama dengan dalih bahwa sikap Anita dinilai tak sesuai dengan nilai-nilai dan budaya kerja yang dianut perusahaan.
“Tindakan yang digambarkan dilakukan oleh karyawan kami tersebut adalah tindakan yang tidak merepresentasikan nilai-nilai dan budaya kerja perusahaan kami secara keseluruhan,” kata perusahaan.
Tak hanya Anita, nasib suaminya, Alvin Harris juga ikut terdampak. Warganet di media sosial mendesak Roemah Koffie untuk memecat Alvin.
Roemah Koffie bersuara, manajemen menyatakan tengah berkomunikasi dan melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang terdampak kasus tersebut.
“Kami memastikan bahwa setiap langkah yang kami tempuh senantiasa berlandaskan pada kebenaran dan kebaikan. Harapan kami, proses ini dapat menjaga empati dan rasa hormat yang selama ini menjadi nilai yang ingin kita junjung bersama,” tulis manajemen.
Setelahnya, Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia Asdo Artriviyanto diganti oleh Mochamad Purnomosidi. Sejumlah pihak mengaitkan pergantian ini buntut viral kasus hilangnya tumbler Tuku milik Anita.
Merespons isu itu, VP Corporate Secretary KCI, Karina Amanda membantah pergantian jabatan dirut KCI berkaitan dengan kasus viral tersebut. Ia mengaku perombakan direksi ini merupakan rotasi pejabat yang rutin dilakukan dalam rangka penyegaran organisasi.
“Tidak terkait dengan kehilangan tumbler. Hanya rotasi rutin saja,” ucap Anne.
(mnf/wis)
[Gambas:Video CNN]

