Penilaian dilakukan terhadap 160 pelabuhan global melalui 35 indikator yang mencakup infrastruktur, konektivitas, produktivitas, keberlanjutan, dan dampak keseluruhan.
Laporan menyebutkan bahwa Singapura unggul di semua kategori berkat infrastruktur kelas dunia, tata kelola yang transparan, dan jaringan pelayaran yang sangat terkoneksi. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura juga dinilai memainkan peran besar dalam pengembangan pelabuhan, termasuk investasi pada bahan bakar alternatif dan koridor pelayaran ramah lingkungan.
Salah satu sorotan utama adalah Pelabuhan Tuas, yang digambarkan sebagai “pusat strategi Singapura”. Fasilitas otomatis yang mulai beroperasi pada 2022 itu diproyeksikan mampu menangani lebih dari 65 juta TEU per tahun pada 2040-an, menjadikannya yang terbesar di dunia setelah rampung.
“Inisiatif-inisiatif ini telah memperkuat kepemimpinan Singapura, memastikan pelabuhan tersebut tetap berada di garda terdepan inovasi maritim global,” tulis laporan tersebut, dikutip dari Business Times, Sabtu 29 November 2025.
Di posisi kedua ada Shanghai, pelabuhan tersibuk di dunia dengan lebih dari 51 juta TEU pada 2024. Pertumbuhan ini didorong investasi otomatisasi serta konektivitas yang melayani lebih dari 700 pelabuhan global. Posisi ketiga masih ditempati pelabuhan di China, yakni Ningbo-Zhoushan dengan lonjakan throughput 26 persen dalam tiga tahun terakhir.
Pelabuhan Busan di Korea Selatan menempati posisi keempat, diperkuat proyek Pelabuhan Baru Jinhae yang akan menaikkan kapasitas hingga hampir 40 juta TEU pada 2045. Adapun Rotterdam berada di posisi kelima sebagai pelabuhan terbesar di Eropa, dipuji karena investasi berkelanjutan dalam bahan bakar alternatif dan teknologi digital.

