Mantan pebulutangkis tunggal putri China, Ye Zhaoying. (Foto: Instagram/ye_zhaoying)
KISAH tragis Ye Zhaoying, mantan pemain tunggal putri China yang merupakan rival sengit Susy Susanti di era 90-an hingga awal 2000-an, memiliki nasib pilu setelah karier olahraganya berakhir. Meskipun pernah menjadi legenda, Ye Zhaoying dicap sebagai pengkhianat oleh Pemerintah China setelah ia mengungkapkan skandal pengaturan pertandingan di Olimpiade Sydney 2000.
Dalam rekam jejak persaingan mereka, Ye Zhaoying memenangkan 11 dari 31 pertemuan melawan Susy Susanti. Namun, berbeda dengan Susy yang hidup damai, Ye Zhaoying harus menjalani hidup di bawah bayang-bayang pengucilan akibat intrik politik di negaranya.
1. Pengakuan Kontroversial
Ye Zhaoying sempat membuat pengakuan mengejutkan bahwa dirinya dipaksa dan diancam untuk sengaja mengalah saat bertanding melawan rekan senegaranya, Gong Zhichao, di babak semifinal Olimpiade Sydney 2000. Pengakuan yang membongkar intrik politik di balik rezim olahraga China ini berbuntut panjang.
Akibat melawan rezim tersebut, Ye Zhaoying pun dicap sebagai pengkhianat oleh Pemerintah China. Dampak dari cap buruk ini sangat parah; namanya bahkan pernah dihapus dari catatan sejarah olahraga China, meskipun ia telah menyumbangkan banyak prestasi bergengsi sepanjang kariernya.
Karena merasa terancam dan terbuang, ia terpaksa pindah dari China dan memilih Spanyol sebagai tempat tinggalnya demi mencari kehidupan yang lebih damai.
2. Hidup Terasing
Meski sempat dikabarkan hidup sebatang kara, Ye Zhaoying pindah ke Spanyol bersama sang suami, Hao Haidong. Namun, ia merasa diasingkan oleh keluarga dan rekan-rekannya karena dianggap terlalu vokal memprotes pemerintah.
“Ayah saya selalu mengatakan kepada saya untuk menjalani hidup dan berhenti memprotes pemerintah China,” kata Ye Zhaoying, mengutip dari Sportv2dk.

