Desakan tersebut buntut kemarahan publik setelah peristiwa badai topan yang menewaskan lebih dari 250 orang. Muncul dugaan praktik korupsi proyek pengendalian banjir.
Dalam unjuk rasa ini, polisi mengerahkan lebih dari 12.000 personel dan memblokade Istana Malacanang.
Mantan anggota parlemen, Co mengklaim Marcos menerima suap lebih dari 50 miliar peso (852 juta Dolar AS) dari proyek infrastruktur sejak tahun 2022. Di tahun 2025, Macros juga dituding memerintahkan penyisipan 100 miliar peso (1,7 miliar Dolar AS) dalam “proyek hantu” di anggaran 2025.
Co juga mengaku mengirim koper berisi uang tunai satu miliar peso ke kediaman Marcos pada tahun 2024. Co kini juga sedang dihadapkan dengan tuduhan mengantongi miliaran dolar AS dari proyek yang sama.
Namun belakangan, Marcos membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
“Siapa pun bisa mengakses internet dan membuat berbagai macam klaim,” bantah Marcos dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 30 November 2025.

