Komedi Abdel juga mengandung kritik-kritik politik yang pedas seperti halnya Pandji.
Misalnya, saat Abdel mengurutkan nama-nama Presiden Indonesia dari dulu sampai sekarang. Abdel sengaja tak menyebutkan nama Joko Widodo alias Jokowi. Langsung saja kepada Prabowo Subianto.
Lalu Abdel pura-pura bertanya ke penonton, “Jokowi kelewatan ya?” Dijawab penonton, “iyaaa, “dengan serentak. Masuk pertanyaan kedua, “menurut Anda Jokowi kelewatan, gak? Tanpa dijawab, langsung gerrr.
Atau misalnya kedua, saat Abdel bercerita mau masuk SMA 1, 2, atau 3. SMA 1 kepala sekolahnya pintar, hebat, dan segala macamnya. Tapi ada masalah dengan Wakilnya. “Gak mau ah, “kilah Abdel.
Lalu, SMA 2 digambarkan juga kepala sekolahnya tegas, disiplin, kayaknya pensiunan tentara. Tapi wakilnya, juga ada masalah. “Gak mau juga ah, “cerita Abdel berlanjut.
Kayaknya SMA 3 ini bagus nih. Kepala sekolahnya kebapakan, rambutnya sudah memutih. Dan wakilnya juga orang pintar, seorang profesor. Ini pasti cocok. Eh nyatanya cuma 16 persen. Langsung penonton gerrr,.
Kenapa komedi Abdel yang juga mengandung kritik politik lebih bisa diterima semua pihak ketimbang komedi Pandji?
Karena komedi Abdel menertawakan dirinya sendiri, sementara Pandji menertawakan, bahkan menyerang fisik orang lain.
Seperti Pandji, Abdel juga terlibat dalam dukung mendukung calon. Tapi komedi Abdel dibungkus secara baik, sementara komedi Pandji dibiarkan telanjang bulat begitu saja. Ya, sah-sah saja. Tapi kayaknya itu lebih cocok dengan budaya kita.
Saya kaget dengan netizen yang menyerang keluarga Pandji, dan membuat istrinya murka dan mengancam akan menempuh jalur hukum.
Pada tahap ini saya membantin, memang tak mudah menjadi pengkritik, kalau kita tak benar-benar sempurna.
Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

