Tangerang, CNN Indonesia —
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, mengerahkan tim medis untuk menangani dampak kesehatan 50 ribu warga terdampak banjir yang melanda sejumlah wilayah itu sejak Minggu (11/1) hingga hari ini, Selasa (13/1).
Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengatakan pengerahan tim medis merupakan langkah penanganan awal untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat tetap terjaga di tengah bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dinas Kesehatan bersama para dokter hadir untuk melakukan cek kesehatan masyarakat,” ujar Maesyal.
Dia bilang kehadiran tim medis itu dibutuhkan pula oleh warga, karena bencana banjir rentan menimbulkan penyakit akibat lingkungan yang tidak higienis.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, Pemkab Tangerang juga mulai mendistribusikan bantuan logistik untuk puluhan ribu warga yang terdampak banjir.
“Untuk penanganan jangka pendek, kami pemerintah daerah juga memberikan bantuan logistik,” katanya.
Salah satu bagian lahan persawahan di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, terancam gagal panen akibat kebanjiran luapan air Sungai Cimanceri, Selasa (13/1). (CNN Indonesia/Dodi Wahyudi) |
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik mengatakan, banjir masih merendam sebanyak 18 titik yang tersebar di enam kecamatan.
Menurutnya ketinggian air banjir itu bervariasi antara 20 sentimeter hingga 1 meter.
“Update terakhir, ada sekitar 10 ribu kepala keluarga atau sekitar 50 ribu jiwa yang terdampak,” ujar Taufik.
Dari jumlah tersebut, sekitar seribu warga di antaranya telah dievakuasi ke lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah daerah.
“Kisaran sementara yang dapat kami update kurang lebih sekitar 1.000 orang dari Kosambi telah mengungsi. Namun, kami masih melakukan pendataan,” tuturnya.
108 hektare sawah terancam gagal panen
Sementara itu, sekitar total luas 108 hektare lahan persawahan di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, terancam gagal panen akibat kebanjiran luapan air Sungai Cimanceri pada Selasa ini.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, hamparan sawah yang terendam terlihat menyerupai genangan air luas.
Aliran sungai dan area persawahan tampak menyatu, menyisakan tiang-tiang penanda lahan yang masih terlihat di tengah genangan.
Camat Tigaraksa, Cucu Abdulrosyied, mengatakan banjir luapan Sungai Cimanceri ini tersebar di dua blok area lahan persawahan di Desa Margasari.
“Berdasarkan informasi dari kepala dusun, sawah yang terendam berada di dua RW. Satu blok seluas 62 hektare dan satu blok lainnya 46 hektare,” kata Cucu di lokasi.
Sementara itu Ketua RT setempat, Mat Soleh, menyebut ketinggian air yang merendam area persawahan tersebut mencapai setinggi pinggang orang dewasa.
Menurutnya, padi-padi yang ditanam sejak Oktober 2025 itu dijadwalkan mulai dipanen pada akhir Januari 2026.
Namun, pemanenan terancam gagal akibat banjir yang melanda desa tersebut.
“Pasti gagal panen, karena padinya juga belum ada yang menguning,” ujar Soleh.
Selain merendam area persawahan, banjir juga menggenangi 30 rumah warga di sekitar lokasi. Ketinggian air di permukiman bervariasi antara 20 sentimeter hingga lebih dari 1 meter.
Meski demikian, sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing sejauh ini.
(dod/kid)
[Gambas:Video CNN]


Salah satu bagian lahan persawahan di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, terancam gagal panen akibat kebanjiran luapan air Sungai Cimanceri, Selasa (13/1). (CNN Indonesia/Dodi Wahyudi)