komika Pandji Pragiwaksono (foto: dok ist)
Penulis: M. Sholeh Basyari – Dosen Pascasarjana INSURI Ponorogo dan Direktur Eksekutif Center for Strategic Islamic and International Studies (CSIIS) Jakarta
GELOMBANG protes menerpa Panji Pragiwaksono. Mulai dari pelaporan yang dilakukan Angkatan Muda NU dan Muhammadiyah, hingga reaksi keras dari Front Persaudaraan Islam (FPI).
Meski dengan nuansa berbeda, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, juga memberi tanggapan khusus atas penampilan Panji dalam pertunjukan stand up tersebut. Orasi Panji menyengat dan menyulut publik yang terbelah. Ia menghentak, menggertak tanpa tedeng aling-aling kaum elite. Narasi monolognya yang dibingkai dalam tajuk Mens Rea bukanlah stand up comedy biasa.
Dalam pertunjukan itu, Panji berlari dari satu tema ke tema lain. Secara jujur, roasting Panji tergolong standar dan “kering” jika diukur sebagai komedi murni. Setidaknya bagi mereka yang familier dengan gaya dan genre Kiky Saputri, atau trio Lapor Pak: Andre Taulany, Andhika Pratama, dan Denny Cagur.
Panji “Menyontek” Zelensky
Secara umum, Mens Rea Panji dapat disimpulkan sebagai kritik sosial dan politik yang dibungkus dalam lelucon. Tokoh dunia dengan tipologi serupa adalah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Sebelum menjadi pemimpin negara bekas Federasi Soviet itu—dan kini musuh utama Vladimir Putin—Zelensky dikenal luas sebagai seorang komedian.
Kepercayaan diri Panji saat me-roast Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga menyasar NU dan Muhammadiyah, tampak dipersiapkan secara matang. Materinya disusun runtut, menggambarkan adanya riset dan analisis media yang memadai—sejenis kerja ilmiah yang lazim dilakukan pengamat politik dan akademisi.
Aktivitas riset dan penulisan naratif tersebut, menurut Panji, dilakukan kurang lebih selama setahun. Maka tidak mengherankan jika bobot politik dan kritik dalam Mens Rea sepadan dengan analisis tokoh-tokoh seperti Refly Harun, Rocky Gerung, atau bahkan Roy Suryo (khusus terkait Gibran dan Jokowi).
Dengan konstruksi komedi seperti ini, muncul pertanyaan: mungkinkah Panji tengah mendesain dirinya sebagai “Zelensky Indonesia”, yang memasuki gelanggang politik melalui panggung komedi?

