Proyek RDMP ini memiliki nilai investasi sekitar USD7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Melalui pembangunan RDMP, kapasitas produksi BBM meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD setara Euro V. Selain itu, proyek ini menaikkan Indeks Kompleksitas Kilang (Nelson Index Complexity) dari 3,7 menjadi 8, dan persentase nilai produk meningkat menjadi 91,8% dari sebelumnya 75,3%.
Angka dalam Nelson Index ini digunakan dalam industri kilang untuk menunjukkan kemampuan konversi kilang (ability to turn crude) menjadi produk bernilai tinggi. Jumlah unit prosesnya lebih banyak seperti distillation, cracking, hydrocracking, coking, hydrotreating, reforming, dll sehingga memiliki kemampuan untuk mengolah minyak mentah (crude) dengan API yang rendah (heavy crude).
Kilang dengan kompleksitas tinggi memaksimalkan nilai produk dimana dengan unit konversi tambahan residu bisa diubah menjadi bahan baku untuk industri petrokimia (petrochemical feedstock).
Seperti asam digunung garam di laut, kilang minyak dan industri petrokimia bekerjasama dan kemudian membuat peradaban manusia menjadi sepenuhnya menjadi peradaban fosil. Hasil dari industri petrokimia dengan segala turunannya yang berjumlah ribuan dan dengan skala yang sangat besar menjadi tidak tergantikan.
Di sisi lain para pemimpin dunia terus menyuarakan agar menusia bersama-sama untuk menekan laju pemanasan global dengan gagasan net-zero emissions. Dengan tertuduh utama sebagai pemicu pemanasan global yakni minyak dan batubara, dunia melalui Paris Agreement bersepat untuk mengurangi pemanasan global dengan mengurangi konsumsi minyak dan batubara.
Paris Agreement adalah perjanjian iklim global yang diadopsi pada 2015 dengan tujuan membatasi kenaikan suhu bumi jauh di bawah 2 derajat Celcius dan berupaya menahannya pada 1,5 derajat Celcius dibanding era pra-industri. Untuk mencapai tujuan itu diperkenalkan konsep net-zero emissions, yaitu kondisi ketika emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia diimbangi oleh penyerapan karbon melalui ekosistem alami atau teknologi penangkapan karbon.
Net zero tidak berarti nol emisi absolut, melainkan keseimbangan bersih antara emisi dan penyerapan. Perjanjian ini tidak menetapkan kewajiban hukum yang seragam, tetapi memakai mekanisme Nationally Determined Contributions (NDCs) sehingga setiap negara merumuskan targetnya sendiri, umumnya dengan horizon 2050-2060.
Karena ada target tenggat waktu agar tidak terjadi “kiamat iklim” maka dunia bersegesa untuk mewujudkan net-zero tersebut dengan berupaya menggunakan alternatif energi fosil yakni energi terbarukan. Batubara digantikan dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan panel surya sedangkan mobil dengan sistem pembakaran internal (ICE) digantikan dengan mobil listrik (EV).
Menurut McKinsey lembaga konsultan dalam laporannya Energy Transition Outlook tahun 2025, dunia membutuhkan $2,7 triliun per tahun untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050 dan jika aksi transformatif tidak diambil sekarang, tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata di bawah 1,5 derajat Celsius kemungkinan akan terlewat. Sungguh sebuah ancaman yang serius dari lembaga konsultan atas keberlangsungan peradaban manusia.
Dalam wacana publik tentang perubahan iklim, kilang minyak sering diposisikan sebagai simbol masa lalu, infrastruktur kotor yang suatu hari akan ditinggalkan ketika dunia mencapai net-zero. Narasi ini terdengar sederhana dan menenangkan-seolah peradaban modern dapat dipertahankan hanya dengan mengganti sumber energi dari fosil ke terbarukan. Namun, ketika kita menggeser sudut pandang dan melihat dunia dari dalam kilang minyak, gambaran yang muncul jauh lebih rumit, bahkan paradoksal. Kilang minyak bukan sekadar pabrik bahan bakar. Ia adalah jantung material peradaban industri modern.
Hampir seluruh aspek kehidupan kontemporer – dari pangan, kesehatan, transportasi, konstruksi, hingga teknologi digital – bergantung pada produk yang lahir dari proses penyulingan minyak dan petrokimia. Dengan demikian, pertanyaan kuncinya bukan sekadar bagaimana menghentikan pembakaran minyak, melainkan apa yang terjadi pada peradaban ketika aliran material dari kilang minyak terganggu.
Secara fisika dan kimia, kilang minyak adalah sistem produksi yang saling terikat (coupled production system). Satu barel minyak mentah tidak bisa diolah menjadi satu produk tunggal sesuai keinginan politik atau pasar. Melalui distilasi fraksional, minyak mentah secara tak terelakkan terpecah menjadi berbagai fraksi: gas, nafta, bensin, avtur, diesel, minyak berat, hingga residu seperti bitumen (aspal).
Inilah hukum dasar kilang bahwa bensin, diesel, avtur, dan bahan baku petrokimia lahir bersamaan. Jika satu produk tidak diinginkan, seluruh sistem ikut terguncang. Kilang tidak bisa “mematikan” bensin tanpa sekaligus mengurangi produksi nafta untuk plastik, aromatik untuk farmasi, atau bitumen untuk jalan raya.
Kilang modern berkapasitas besar dirancang sejak awal untuk terintegrasi dengan industri petrokimia. Sekitar 10-15% outputnya bukan bahan bakar, melainkan feedstock (bahan baku) krusial bagi plastik, serat sintetis, pelarut, cat, pupuk, dan obat-obatan.
Saat ini Cina sedang membangun kompleks “crude-to-chemicals” besar-besaran. Mereka tidak lagi berfokus pada bensin, melainkan langsung mengolah minyak mentah menjadi bahan baku kimia tingkat tinggi, mengamankan posisi mereka sebagai pemasok global utama di masa depan
Peradaban modern adalah juga peradaban polimer. Plastik bukan sekadar kantong belanja, ia adalah tulang punggung material dunia modern. Polyethylene, polypropylene, PET, polystyrene, hingga ABS-semuanya berakar pada nafta dan aromatik dari kilang minyak.
Kasus LEGO menjadi ilustrasi paling jujur. Lebih dari 80% balok LEGO terbuat dari ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene), plastik petrokimia dengan presisi mikron, daya tahan puluhan tahun, dan clutch power yang nyaris sempurna. Setiap kilogram ABS berakar pada minyak dan gas. Ketika LEGO mencoba mengganti ABS dengan plastik daur ulang (rPET), hasilnya justru paradoks, jejak karbon meningkat karena kebutuhan energi dan aditif tambahan. Material lama ternyata terlalu “bagus” untuk digantikan secara sederhana.
Pelajaran dari LEGO bersifat universal, banyak material petrokimia bukan bertahan karena kebetulan sejarah, tetapi karena mereka adalah solusi teknik terbaik yang pernah ditemukan.
Agenda net-zero hampir selalu difokuskan pada emisi energi, pembangkit listrik, kendaraan, dan bahan bakar. Namun, dari sudut pandang kilang, ini adalah reduksi masalah yang berbahaya. Menghilangkan permintaan bensin melalui elektrifikasi kendaraan, misalnya, tidak otomatis menghilangkan kebutuhan akan kilang.
Jika permintaan bensin turun 30-40%, banyak kilang akan jatuh di bawah ambang keekonomian. Kilang adalah infrastruktur berbiaya tetap tinggi dengan margin tipis, ia hanya hidup pada utilisasi tinggi. Penutupan kilang berarti bukan hanya krisis energi, tetapi krisis material, nafta menghilang, aromatik langka, dan seluruh rantai industri kimia akan ikut runtuh.
Dampaknya merambat jauh ke sektor yang jarang dibahas dalam transisi energi, farmasi. Sekitar 90% obat modern bergantung pada prekursor kimia organik berbasis petrokimia. Tanpa benzena, toluena, dan xilena (BTX) dari kilang, industri obat modern tidak bisa berjalan. Ketergantungan energi berubah menjadi ketergantungan akan industri kesehatan.
Kilang minyak juga memegang peran vital dalam ketahanan pangan dunia melalui asam sulfat, ini istilah yang sangat populer di Indonesia. Proses penyulingan minyak menghasilkan sulfur sebagai limbah, yang kemudian diubah menjadi asam sulfat.
Asam sulfat ini adalah “tulang punggung” industri pupuk sintetis, sekitar 50-60% produksinya digunakan untuk membuat nutrisi tanaman tersedia bagi tanah. Tanpa operasional kilang yang stabil, biaya produksi pupuk akan melonjak, yang pada gilirannya akan memicu krisis pangan global.
Ekonom Nicholas Georgescu-Roegen mengingatkan bahwa proses ekonomi tunduk pada hukum entropi. Kita hidup dengan mengubah materi berentropi rendah-seperti minyak mentah-menjadi limbah berentropi tinggi. Net-zero sering dibayangkan sebagai sistem sirkular sempurna, tetapi daur ulang 100% adalah kemustahilan termodinamika. Setiap proses daur ulang membutuhkan energi dan menghasilkan degradasi material.
Kilang minyak, dalam konteks ini, adalah mesin entropi yang sangat efisien, ia memadatkan energi dan materi yang terkubur jutaan tahun menjadi fondasi kehidupan modern. Menghapusnya tanpa pengganti material yang setara berarti mengabaikan hukum fisika.
Melihat net-zero dari kilang minyak memaksa kita bersikap lebih jujur. Peradaban saat ini bukan hanya powered by oil, tetapi made of oil. Minyak bukan sekadar bahan bakar, melainkan bahan baku peradaban.
Transisi energi yang mengabaikan peran material kilang berisiko menciptakan deindustrialisasi terselubung, krisis pasokan, dan ketergantungan geopolitik baru. Tantangan abad ke-21 bukan sekadar menghentikan pembakaran karbon, melainkan menemukan cara mempertahankan fondasi material peradaban dengan jejak karbon yang lebih rendah-tanpa melanggar hukum fisika dan realitas industri.
Net-zero, jika ingin bermakna, harus dilihat bukan dari podium konferensi iklim, melainkan dari menara distilasi kilang minyak.
Energy Investment & PPP Specialist ENRI Indonesia

