Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Drama Menit Akhir Kembali Hantui St. Pauli, Hauke Wahl Buka Suara

    January 19, 2026

    Genangan Akibat Hujan Lebat di Jakarta Surut Total

    January 19, 2026

    Harga Emas Pegadaian di Awal Pekan, dari Antam, UBS dan Galeri24 : Okezone Economy

    January 19, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Pendidikan Bukan Persekolahan

    Pendidikan Bukan Persekolahan

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 18, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Sayang, pendidikan sejak Orde Baru hingga hari ini dirumuskan sebagai persekolahan yang bersifat massal dan memaksa. Tidak bersekolah hampir-hampir langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik. Peran keluarga dan masyarakat perlahan-lahan dipinggirkan. Persekolahan dijadikan instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan pemilik modal. 


    No more no less. Persekolahan dibiarkan untuk memonopoli pendidikan sehingga pendidikan menjadi barang langka dan mahal. Bahkan beberapa sekolah-sekolah berubah menjadi eksklusif dan diposisikan sebagai tempat terbaik untuk menyombongkan diri. 

    Sekolah telah membuat belajar sebagai sebuah kegiatan yang konsumtif dengan biaya yang makin tidak terjangkau. Belajar sejatinya adalah kegiatan yang produktif yang kesempatannya disediakan bersama oleh keluarga dan masyarakat. Pembangunan gagal jika dibangun di atas puing-pusing keluarga dan masyarakat. Tembok-tembok tebal dan tinggi sekolah cenderung mengasingkan warga muda dari keluarga dan masyarakat seolah hidup berkeluarga dan bermasyarakat itu tidak sepenting bersekolah. 



    Pendidikan sebenarnya adalah fasilitas untuk memperluas kesempatan belajar, bukan sekedar kesempatan bersekolah. Apalagi di era digital saat ini. Membatasi tempat belajar hanya di sekolah berarti mempersempit kesempatan belajar. Sekolah seharusnya lebih bersifat melengkapi dan menambahi pendidikan di rumah, dan di masyarakat. Sekolah tidak akan bisa dan tidak boleh mengambil alih peran pendidikan keluarga dan masyarakat. Inilah prinsip 3 pilar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Universal education for all can only be delivered by all. Sekolah tidak hanya membuat kesempatan belajar menjadi langka, tapi juga menjadi eksklusif. 

    Pembangunan seharusnya dimaksudkan untuk memperluas kemerdekaan sebagaimana dinyatakan oleh nobelis ekonomi Amartya Sen. Dengan demikian pembangunan pendidikan harus dirumuskan sebagai upaya memperluas kesempatan belajar untuk merdeka. Pendidikan tidak boleh dikerdilkan menjadi persekolahan yg sering terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar. 

    Apalagi standar asing. Standar asing adalah bagian dari neo-cortex war oleh kekuatan-kekuatan nekolim. Akibat dari obsesi standar, apalagi standard asing, pendidikan kehilangan relevansi personal, temporal dan spasial. Potensi-potensi alamiah agro-maritim kita telah ditelantarkan secara terstruktur, sistemik, dan masif. Seiring dengan penelantaran itu, kita juga kehilangan wawasan ekologis yang merusak potensi-potensi agro-maritim yang melimpah itu. 

    Belajar adalah sebuah emergent process yang tidak pernah mensyaratkan gedung megah, dan kurikulum yang ketat dan kaku, serta birokrasi sekolah yg rumit. Belajar paling tidak mencakup 4 kesempatan pokok: 1) mengalami atau praktek, 2) membaca, 3) berbicara, dan 4) menulis. Belajar adalah sebuah proses memaknai pengalaman. Pengalaman, terutama pengalaman 3-D, adalah papan lontar belajar. Bagi anak laki-laki, kelas adalah tempat terburuk untuk belajar. 

    Sekolah sebagai lingkungan buatan seringkali terlalu tertib, aman dan nyaman; tidak memberikan tantangan dengan ketidakpastian dan risiko nyata. Inilah kurikulum yang terlaksana, bukan kurikulum yang ditulis rapi. Tidak mengherankan kini kita menghadapi krisis kepemimpinan karena kepemimpinan tidak bisa dibina dalam lingkungan yang teratur, aman, dan nyaman. 

    Persekolahan seperti itu telah memperpanjang masa kanak-kanak warga muda kita. Mereka yang lulus SMA atau sederajat yang berusia 18 tahun belum siap untuk menjadi warga dewasa yang mandiri, sehat, dan produktif. Peningkatan jumlah calon mahasiswa adalah bukti kegagalan pendidikan dasar dan menengah. Ini memberi beban tambahan bagi kampus karena menghadapi mahasiswa baru yang belum dewasa. Peningkatan jumlah mahasiswa baru seperti ini jelas akan menurunkan kapasitas pendidikan dan riset kampus.

    Persoalan pendidikan kita saat ini adalah too much schooling, not the lack of it. Yang kita perlukan saat ini adalah membangun jejaring belajar atau learning webs, di mana keluarga dan masyarakat diperkuat, dan diikutsertakan dalam memberi kesempatan belajar bagi warga muda. Sekolah dan kampus menjadi salah satu simpul belajar dalam jejaring belajar itu. 

    Jejaring belajar itu tidak boleh terlalu terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar, namun perlu luwes dan adaptif agar relevan secara personal, temporal, dan spasial. Potensi-potensi warga muda yang beragam, dan potensi-potensi agro-maritim negara kepulauan seluas Eropa ini tidak boleh lagi ditelantarkan. It takes a village to raise a child, and none shall be left behind.

    Prof. Daniel Mohammad Rosyid 
    Guru Besar Teknik Kelautan ITS, pemerhati maritim Indonesia





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Genangan Akibat Hujan Lebat di Jakarta Surut Total

    January 19, 2026

    RUU Perubahan Iklim Dinilai Lebih Pro Pasar Ketimbang Lindungi Rakyat

    January 19, 2026

    Noel Ebenezer Hadapi Sidang Perdana Kasus Pemerasan K3 Hari Ini

    January 19, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Drama Menit Akhir Kembali Hantui St. Pauli, Hauke Wahl Buka Suara

    Berita Olahraga January 19, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Jerman: Bek St. Pauli, Hauke ​​Wahl, mengaku sangat kecewa setelah Die Freibeuter…

    Genangan Akibat Hujan Lebat di Jakarta Surut Total

    January 19, 2026

    Harga Emas Pegadaian di Awal Pekan, dari Antam, UBS dan Galeri24 : Okezone Economy

    January 19, 2026

    Momen Haru Prabowo saat Jadi Saksi Nikah Sekretaris Pribadi

    January 19, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Drama Menit Akhir Kembali Hantui St. Pauli, Hauke Wahl Buka Suara

    January 19, 2026

    Genangan Akibat Hujan Lebat di Jakarta Surut Total

    January 19, 2026

    Harga Emas Pegadaian di Awal Pekan, dari Antam, UBS dan Galeri24 : Okezone Economy

    January 19, 2026

    Momen Haru Prabowo saat Jadi Saksi Nikah Sekretaris Pribadi

    January 19, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.