Setiap perjalanan besar selalu memiliki titik awal yang penuh ujian. Bagi Bernard Hopkins, salah satu legenda tinju dunia, momen itu datang pada 17 Desember 1994 di Coliseo General Ruminahui, Quito, Ekuador.
Malam tersebut bukan sekadar perebutan gelar kelas menengah IBF yang kosong, melainkan pertarungan bertahan hidup di wilayah lawan, di tengah tekanan politik, geografis, dan bisnis yang tidak berpihak kepadanya.
Bernard Hopkins memulai karier profesionalnya dengan kekalahan, namun bangkit dengan 22 kemenangan beruntun sebelum akhirnya kalah angka dari Roy Jones Jr. pada 1993.
Setelah itu, ia kembali merangkai empat kemenangan.
Ketika Jones mengosongkan gelar IBF, Hopkins yang berstatus penantang nomor satu dipertemukan dengan petinju tuan rumah, Segundo Mercado, demi sabuk juara.
Namun pertarungan itu harus digelar di kandang Mercado, sebuah keputusan promotor yang membuat Hopkins merasa “dikorbankan.”
Persiapan Hopkins dilakukan di dua tempat. Ia memulai kamp latihan di Philadelphia sebelum pindah ke Florida untuk beradaptasi, lalu terbang langsung ke Quito pada pekan pertandingan.
Setibanya di sana, masalah langsung muncul, mulai dari bagasi yang hilang hingga pengamanan ketat ala militer.
Kondisi diperparah oleh faktor ekstrem: Quito berada di ketinggian sekitar 9.350 kaki di atas permukaan laut, membuat adaptasi fisik menjadi tantangan besar.
Situasi di luar ring pun memanas. Saat itu, Ekuador tengah berada dalam konflik bersenjata dengan Peru.
Hopkins menyadari atmosfer permusuhan tersebut. Ia bukan hanya menghadapi petinju lokal, tetapi juga membawa status “tamu tak diundang” di tengah ketegangan nasional.
Seolah belum cukup, ia juga memiliki sejarah dengan kakak Mercado, Jouvin, yang pernah ia kalahkan secara mengejutkan pada awal kariernya.
Pada timbang badan, Hopkins masuk dengan bobot 157 pound, sementara Mercado 158 pound.
Saat malam pertarungan tiba, Hopkins melangkah ke arena berkapasitas 15.000 penonton yang sepenuhnya berpihak pada lawannya.
Ia sempat dua kali terjatuh di ronde kelima dan ketujuh, serta merasakan kelelahan luar biasa akibat perbedaan waktu dan kurangnya aklimatisasi.
Meski begitu, Hopkins menunjukkan ketangguhan mental yang menjadi ciri khasnya.
Ia bertahan hingga akhir dan laga dinyatakan imbang, sebuah hasil yang menurutnya sudah merupakan pencapaian besar di bawah kondisi tersebut.
Federasi IBF kemudian memerintahkan pertandingan ulang.
Enam bulan berselang, rematch digelar di Landover, Maryland. Kali ini, Bernard Hopkins tampil dominan dan menghentikan Mercado pada ronde ketujuh untuk merebut gelar IBF.
Kemenangan itu menjadi awal dari salah satu masa kejayaan terpanjang dalam sejarah tinju.
Hopkins kemudian menyatukan gelar dan memerintah divisi kelas menengah selama lebih dari satu dekade, sementara Mercado perlahan meredup dan pensiun pada 2003.
Pertarungan di Quito menjadi bukti bahwa kejayaan Bernard Hopkins lahir dari ketahanan menghadapi situasi paling tidak bersahabat, jauh sebelum ia dikenal sebagai salah satu petinju paling cerdas dan tangguh sepanjang masa.
Artikel Tag: Bernard Hopkins, Tinju, Petinju, boxing, Ekuador, Amerika Serikat, kelas menengah, Middleweight, IBF, Roy Jones Jr, Philadelphia
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/tinju/di-balik-garis-musuh-kisah-awal-kejayaan-bernard-hopkins-di-ekuador

