Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Emas Antam Merosot Usai Cetak Rekor, Termurah Rp1,44 Juta

    January 22, 2026

    Banjir Rendam Jalan Srengseng Jakbar, Polisi Atur Lalin hingga Bantu Antar Siswa ke Sekolah : Okezone News

    January 22, 2026

    Geledah Rumah Wali Kota Madiun, KPK Sita Uang Tunai

    January 22, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Pilihan Sunyi yang Menentukan Nilai Rupiah

    Pilihan Sunyi yang Menentukan Nilai Rupiah

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 21, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Dana besar Bank Indonesia menjadi contoh nyata dilema ini. Jika dana tersebut disalurkan ke kredit, uang fiat kembali beredar dalam sistem berbasis utang. Aktivitas ekonomi memang terlihat hidup, konsumsi naik, dan dunia usaha memperoleh likuiditas. Namun secara struktural, kredit berarti menambah jumlah uang tanpa menambah nilai riil secara seimbang.


    Dalam praktik, kredit tidak selalu mengalir ke produksi. Sebagian masuk ke konsumsi, spekulasi aset, properti, dan impor. Akibatnya, barang tidak bertambah secepat uang. Inflasi naik perlahan, daya beli masyarakat turun, dan rupiah kembali tertekan. Pertumbuhan ada, tetapi rapuh. Yang diuntungkan adalah pelaku besar yang dekat dengan kredit, sementara masyarakat luas menanggung kenaikan harga.

    Berbeda dengan kredit, penggunaan dana untuk membeli emas memperkuat cadangan nilai tanpa menciptakan utang baru. Emas tidak bisa dicetak, tidak bergantung pada janji bayar, dan tidak tergerus inflasi. Ketika pemerintah menggunakan dana tersebut untuk membeli emas dalam jumlah besar, yang diperkuat bukan angka, melainkan fondasi kepercayaan. Ini langkah sunyi, tidak sensasional, tetapi bekerja dalam jangka panjang.



    Kekuatan emas menjadi semakin relevan ketika digunakan langsung dalam pembelian besar. Selama ini, pembelian besar — aset negara, infrastruktur, atau transaksi bernilai tinggi — selalu dipaksakan lewat rupiah. Akibatnya, permintaan rupiah melonjak sementara nilainya terus tertekan. Jika emas digunakan sebagai alat pembayaran atau penyangga dalam transaksi besar, tekanan itu berkurang secara alami.

    Pembelian besar menggunakan emas memindahkan fungsi penyimpan nilai dari rupiah ke aset riil. Rupiah tidak lagi dipaksa memikul beban yang bukan kodratnya. Ia kembali menjadi alat tukar harian, sementara emas berfungsi sebagai standar nilai untuk transaksi besar dan jangka panjang. Dengan cara ini, rupiah tidak perlu “dikuatkan” secara artifisial, karena tekanannya memang dikurangi.

    Dampak lain yang penting adalah turunnya spekulasi. Ketika transaksi besar dilakukan dengan emas, tidak ada ruang untuk permainan kurs jangka pendek, spread berlebihan, atau euforia harga. Nilai menjadi jelas dan stabil. Ekonomi bergerak karena kebutuhan nyata, bukan karena dorongan angka dan sentimen.

    Dalam konteks ini, pembelian emas oleh bank sentral dan penggunaan emas dalam transaksi besar saling melengkapi. Cadangan emas memberi ketahanan, sementara penggunaannya memberi disiplin. Keduanya bersama-sama membatasi dampak negatif sistem fiat yang selama ini membiarkan uang bertambah lebih cepat daripada nilai.

    Jika dana tersebut hanya diputar lewat kredit, sistem kembali ke pola lama: cepat, ramai, tetapi mudah bocor. Namun jika sebagian diarahkan ke penguatan emas dan memungkinkan emas berperan dalam pembelian besar, arah kebijakan berubah dari mengejar pertumbuhan semu ke menjaga nilai nyata.

    Kesimpulannya, pilihan antara kredit dan emas bukan sekadar soal kebijakan teknis, melainkan soal arah. Kredit memberi dorongan jangka pendek, tetapi emas memberi ketahanan. Integrasi pembelian emas dengan penggunaan emas dalam transaksi besar adalah cara paling rasional untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah tanpa rekayasa angka. Ini bukan langkah mundur, melainkan langkah dewasa dalam menghadapi realitas sistem uang kertas yang terus melemah.

    Muchamad Andi Sofiyan
    Penggiat literasi dari Republikein StudieClub





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Emas Antam Merosot Usai Cetak Rekor, Termurah Rp1,44 Juta

    January 22, 2026

    Geledah Rumah Wali Kota Madiun, KPK Sita Uang Tunai

    January 22, 2026

    Rusia Siap Sumbang 1 Miliar Dolar AS untuk Dewan Perdamaian Gaza

    January 22, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Emas Antam Merosot Usai Cetak Rekor, Termurah Rp1,44 Juta

    Berita Nasional January 22, 2026

    Mengutip situs Logam Mulia, harga emas Antam hari ini merosot Rp15.000 ke Rp2.790.000 per gram…

    Banjir Rendam Jalan Srengseng Jakbar, Polisi Atur Lalin hingga Bantu Antar Siswa ke Sekolah : Okezone News

    January 22, 2026

    Geledah Rumah Wali Kota Madiun, KPK Sita Uang Tunai

    January 22, 2026

    Banjir di Flyover Pesing Jakbar Imbas Hujan Deras

    January 22, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Emas Antam Merosot Usai Cetak Rekor, Termurah Rp1,44 Juta

    January 22, 2026

    Banjir Rendam Jalan Srengseng Jakbar, Polisi Atur Lalin hingga Bantu Antar Siswa ke Sekolah : Okezone News

    January 22, 2026

    Geledah Rumah Wali Kota Madiun, KPK Sita Uang Tunai

    January 22, 2026

    Banjir di Flyover Pesing Jakbar Imbas Hujan Deras

    January 22, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.