Dikutip dari Reuters, Kamis 22 Januari 2026, harga minyak mentah Brent naik 32 sen atau 0,5 persen dan ditutup di level 65,24 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 26 sen atau 0,4 persen ke 60,62 Dolar AS per barel.
Penguatan harga ini melanjutkan reli pada sesi sebelumnya, di mana kedua kontrak naik sekitar 1,5 persen.
Kenaikan kali ini dipicu keputusan Kazakhstan yang menghentikan produksi di ladang minyak Tengiz dan Korolev sejak Minggu akibat gangguan distribusi listrik.
Selain itu, minyak dari ladang raksasa Kashagan untuk pertama kalinya dialihkan ke pasar domestik. Langkah ini dilakukan karena terjadi hambatan di terminal pipa CPC di Laut Hitam, setelah fasilitas tersebut mengalami kerusakan serius akibat serangan drone, menurut empat sumber industri.
Operator ladang Tengiz, Tengizchevroil (TCO), juga telah menetapkan status force majeure untuk pengiriman minyak melalui sistem pipa CPC. Penghentian produksi di dua ladang minyak Kazakhstan itu bisa berlangsung selama 7 hingga 10 hari.
Badan Energi Internasional (IEA) juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026. Revisi ini mengindikasikan surplus pasokan minyak tahun ini kemungkinan lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.

