Awaludin
, Jurnalis-Jum’at, 23 Januari 2026 |22:08 WIB
Presiden Prabowo dalam forum WEF Davos 2026 di Swiss (foto: Biro Pers Kepresidenan)
JAKARTA – Sejumlah akademisi dari berbagai disiplin ilmu memberikan apresiasi atas pidato Presiden Prabowo Subianto dalam forum World Economic Forum (WEF) Davos 2026 di Swiss. Pidato tersebut dinilai tidak hanya memuat pesan diplomatik global, tetapi juga menawarkan arah pembangunan nasional yang strategis serta membuka peluang kerja sama internasional yang lebih adil dan berkelanjutan.
Akademisi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Direktur Geopolitik Great Institute, Teguh Santosa, menilai pidato Prabowo sebagai sebuah proposal terbuka bagi kerja sama dan kemitraan internasional.
Menurutnya, Prabowo secara terbuka menguraikan berbagai persoalan elementer yang masih dihadapi Indonesia sebagai warisan pemerintahan sebelumnya. Namun, pada saat yang sama, ia juga memaparkan capaian-capaian konkret pemerintahannya dalam merespons dan mengatasi persoalan tersebut.
“Pemaparan Presiden Prabowo mempertegas distingsi antara praktik greedynomics atau ekonomi keserakahan yang telah menimbulkan kerusakan di berbagai sektor, dengan praktik Prabowonomics yang sejauh ini relatif berhasil mengurangi kerusakan-kerusakan tersebut,” ujar Teguh, Jumat (23/1/2026).
Ia menilai, pidato Prabowo di Davos sebagai deklarasi pembangunan Indonesia yang menjanjikan kerja sama dan kemitraan yang adil di tingkat global. Bahkan, menurutnya, pidato tersebut semestinya dijadikan rujukan kebijakan lintas sektor.
“Pidato ini layak dijadikan semacam playbook bagi seluruh lembaga pemerintahan, dari pusat hingga daerah, agar semua pengambil kebijakan bergerak dengan spirit yang sama dan arah pembangunan yang sejalan dengan Presiden,” tegasnya.

