Sejumlah akademisi menilai pandangan tersebut keliru karena MBG dan pendidikan justru saling melengkapi dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi muda.
Bagi kalangan akademik, MBG tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Program ini dipandang sebagai suplemen penting yang mendukung proses belajar, bukan sebagai beban anggaran. Dengan pemenuhan gizi yang memadai, anak-anak memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menyerap pendidikan secara optimal.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS. Menurutnya, MBG seharusnya dipahami sebagai bagian integral dari pendidikan nasional.
“Justru ini bagian dari pendidikan. MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan. Memang jangan diadu domba dengan peran guru, dua-duanya harus jalan,” pesan Prof. Ahmad, dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 24 Januari 2025
Pendapat ini sejalan dengan pandangan Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch. Ia mengkritik keras kecenderungan publik yang mempertentangkan program pendidikan dengan Makan Bergizi Gratis, yang menurutnya merupakan kekeliruan logika dan mengabaikan realitas mendasar.
“Anak tidak akan bisa belajar dengan perut kosong. Negara wajib melihat nutrisi dan pendidikan sebagai satu kesatuan hak konstitusional yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.
Iskandar menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi utama pendidikan. Berbagai kajian kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap, dan perkembangan kognitif anak.
“Kalau pondasinya rapuh, hasil pendidikannya juga akan rapuh,” katanya.
Pentingnya pemenuhan gizi bagi keberhasilan pendidikan juga telah terbukti secara ilmiah. Prof. Ahmad menjelaskan bahwa kecukupan gizi harian berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak.
“Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta performa akademik yang lebih stabil,” ungkapnya.
Praktik pemenuhan gizi siswa telah lama diterapkan di berbagai negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, program makan sekolah seperti School Breakfast Program dan National Lunch Program menjadi bagian dari kebijakan nasional. Melalui peran aktif sekolah, anak-anak terbebas dari persoalan sarapan dan makan siang, sehingga lebih siap mengikuti proses belajar di kelas.
Selain manfaat langsung bagi peserta didik, MBG juga dinilai memiliki potensi efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Dengan perencanaan yang matang, program ini dapat melibatkan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok nasional.
Pengalaman Amerika Serikat melalui program Women, Infant, and Child (WIC) menunjukkan bahwa intervensi gizi yang dikelola negara dapat berjalan beriringan dengan penguatan sektor pertanian serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

