Padahal, di awal 2025, harga emas ada di level 3.000 Dolar AS per ons.
Lonjakan fantastis ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan dampak dari “badai sempurna” di pasar global. Di antaranya; ketegangan AS-NATO terkait Greenland memicu pelarian modal ke aset safe-haven. Lalu, kelangkaan fisik di mana stok perak di pasar London menipis, diperparah defisit pasokan global yang diperkirakan mencapai 1,2 juta ons tahun ini.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed dan tren bank sentral dunia yang mulai meninggalkan Dolar AS juag turut mempengaruhi harga.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya turut mengekor di zona hijau.
Perak spot melonjak 4,5 persen menjadi 100,49 Dolar AS per ons. Platinum mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di 2.749 Dolar AS per ons. Palladium melonjak melampaui 2.002 Dolar AS per ons.
“Ini lebih dari sekadar badai yang lewat; ini adalah tanda perubahan fundamental zaman,” ujar Tai Wong, pedagang logam independen.
Kini, fokus pasar tertuju pada apakah harga perak mampu bertahan di atas 100 Dolar AS hingga penutupan pasar, atau justru memicu aksi ambil untung (profit taking) dari para spekulan.

