Semangat ini dicanangkan sebagai respons terhadap ketidakpastian global demi mendorong pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih agile dan berkelanjutan. Menurutnya, berbagai tantangan masih akan mengadang ke depan, di antaranya ketidakpastian ekonomi global, tingginya volatilitas di pasar keuangan, inflasi global yang cenderung mengalami tren penurunan.
Konsep GERAK meliputi lima strategi tematik, sebagai sinyal arah kebijakan ke depan.
G (Governance): Memperkuat fondasi kebijakan yang kredibel dan independen berdasarkan UU P2SK.
E (Efektivitas): Memastikan transmisi kebijakan moneter, seperti penurunan suku bunga, benar-benar sampai ke sektor riil dan perbankan.
R (Resiliensi): Memperkenalkan konsep financial security atau ketahanan sektor keuangan yang setara pentingnya dengan ketahanan pangan dan energi.
“A adalah Akselerasi. akselerasi sinergi fiskal, moneter, dan sektor keuangan, jelas Thomas dalam paparan fit and proper test di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin 26 Januari 2026. Ini akan mempercepat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, terutama dalam pengelolaan likuiditas dan pasar surat utang negara (SBN).
Lalu, K (Keberlanjutan). Melanjutkan transformasi keuangan digital serta meningkatkan literasi dan dukungan bagi UMKM agar naik kelas.
Melalui filosofi ini, Thomas menekankan pentingnya sinergi antara BI, Kementerian Keuangan, dan otoritas lainnya tanpa mengorbankan independensi lembaga. Fokusnya jelas: menciptakan suku bunga yang kompetitif dan likuiditas yang sehat guna mewujudkan visi Indonesia sebagai negara maju di masa depan.

