Ekonom Ichsanuddin Noorsy menyebut sejumlah faktor yang membuat ekonomi Indonesia stagnan di akhir 2025. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA – Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut mengalami kelumpuhan, meski data resmi menunjukkan pertumbuhan di atas 5%.
Ekonom Ichsanuddin Noorsy menyebut sejumlah faktor yang membuat ekonomi Indonesia stagnan di akhir 2025 hingga awal 2026, terutama terlihat pada sektor moneter, fiskal, dan riil.
“Di sektor moneter, ditandai dengan undistributed loan sebesar Rp2.509,4 triliun, yaitu pinjaman yang sudah disetujui tapi belum dicairkan. Kondisi perbankan juga bersikap ‘wait and see’ karena ketidakpastian, suku bunga, dan inflasi yang tinggi, sehingga akhirnya BI rate berada di 4,75%,” jelas Ichsanuddin di Podcast The Daily Buzz Okezone.com, Selasa (27/1/2026).
Sehingga, lanjut Ichsanuddin, orang berkesimpulan bahwa supply-demand moneter menunjukkan tidak adanya permintaan kredit. Pasokan uang sebenarnya cukup baik, terlihat dari kenaikan DPK, tetapi kredit justru menurun.
“Artinya, gambaran moneter atau bank bersikap ‘wait and see’. Kondisi ini juga terlihat dari SBN dengan yield 6,26%, yang masih tinggi. Catatan lain di sektor moneter, keuntungan bank Himbara menurun, dan yang baik hanya satu bank swasta saja,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, menurut Ichsanuddin, terdapat tiga masalah besar. Tax ratio berada di level 10, dan fiskal tertekan oleh pembayaran utang. Pada 2025, pemerintah harus membayar Rp1.352 triliun, di mana dari Rp800 triliun cicilan, sekitar Rp500 triliun merupakan bunga.
“Tertekan habis. Dampaknya, ruang fiskal menjadi sempit,” ujarnya.
Menurut Ichsanuddin, alokasi fiskal cenderung dialihkan ke program-program sosial atau bantuan publik, tetapi masih menghadapi konflik kepentingan sehingga tidak mampu mendorong kegiatan sektoral.
“Fiskal itu dialihkan dari sesuatu menjadi seperti bantuan gratis. Sebenarnya ini mirip Schooling Males Coalition, dari Gagas World Food Program, WHO, hingga SDG. Ini menunjukkan fiskal belum efektif menggerakkan sektor riil,” jelasnya.

