Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono segera mengemban amanah baru menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. (Foto: Okezone.com/IMG)
JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono segera mengemban amanah baru menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Dirinya mengklarifikasi mengenai arah kebijakan sinergi otoritas fiskal dan moneter di masa depan.
Thomas menegaskan, kolaborasi yang akan diusung bukanlah pengulangan skema berbagi beban atau burden sharing seperti yang diterapkan saat masa pandemi Covid-19. Sebab, tantangan ekonomi saat ini memerlukan pendekatan yang berbeda.
Jadi, fokus utama adalah memastikan kebijakan moneter dapat menyentuh sektor riil secara lebih efektif melalui penguatan transmisi kebijakan.
“Burden sharing yang kita kenal adalah produk masa pandemi kalau mau dilihat teknisnya cost sharing. Yang saya tekankan di fit and proper adalah sinergi dari mengelola transmisi, ujung-ujungnya nih gimana di perbankan, BI rate selama ini trennya sudah turun terus,” tegas Thomas kepada awak media di Kemenkeu, Rabu (28/1/2026).
Thomas menilai, sinergi antara pemerintah dan BI saat ini harus difokuskan pada percepatan transmisi suku bunga ke perbankan dan sektor riil. Menurutnya, meskipun suku bunga acuan (BI Rate) berada di level rendah, dampak signifikan terhadap percepatan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya terasa.
Oleh karena itu, penyelarasan langkah antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah menjadi sangat krusial untuk memastikan setiap penurunan suku bunga benar-benar diterjemahkan menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi.
“Itu sudah bukan konsep-konsep masa lalu seperti burden sharing. Yang saya tekankan itu transmisi. Ini urusan suku bunga di perbankan dan sebagainya,” tutur Thomas.

