Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Nico Schlotterbeck Akui Dortmund Kurang Menyerang Saat Ditekuk Inter 2-0

    January 29, 2026

    Normalisasi Kali Ciliwung Diklaim Kunci Pengendalian Banjir Jakarta

    January 29, 2026

    Kisah Maarten Paes, Berpotensi Jadi Pemain Timnas Indonesia Pertama dalam Sejarah Liga Champions : Okezone Bola

    January 29, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Paradoksnya Paradoks

    Paradoksnya Paradoks

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 29, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    World Economic Forum memang panggung yang tepat bagi Prabowo. Sejak dulu, beliau cocok tampil di forum besar, pegang mikrofon mahal, dan di depan hadirin berjas gelap. Kalimatnya tebal, intonasinya berani, metaforanya keras. 


    Ia bicara tentang konstitusi, tentang supremasi hukum, tentang perampok-perampok serakah yang selama ini menjarah negeri. Tentang empat juta hektare lahan ilegal yang disita. Tentang pengusaha rakus yang dikatakannya bukan pelaku pasar bebas, melainkan “baron perampok”.

    Para pemimpin dunia tampak terkesima mendengar pidatonya yang berapi-api minus gebrak meja. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang mengangguk penuh hormat. Ada pula yang mungkin diam-diam berpikir, “Indonesia menarik juga ya.”



    Pidato Prabowo selalu seperti itu: membakar semangat, menghangatkan ruangan, dan membuat Indonesia terdengar seperti negara yang sedang bangkit dari tidur panjang kolonialisme modern.

    Masalahnya, Davos itu jauh. Sangat jauh. Jauh dari Aceh. Jauh dari Tapanuli. Jauh dari sungai-sungai Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang meluap membawa mayat. Jauh dari hutan yang sudah lama tak lagi hutan.

    Karena nanti, ketika para pemimpin dunia itu pulang, mereka akan meminta laporan. Bukan pada YouTube Sekretariat Presiden, tapi pada kedutaan mereka masing-masing di Jakarta. Mereka akan minta data. Mereka akan minta kebijakan. Mereka akan minta konsistensi.

    Dan di situlah dingin Davos pindah ke ruang rapat. Sebab di Indonesia, hanya beberapa hari sebelum pidato berapi-api itu, publik baru saja menyaksikan drama yang membuat alis nasional terangkat serempak.

    Presiden Prabowo mencabut izin 28 perusahaan perusak hutan di Sumatera dan Aceh. Berita itu disambut seperti hujan di musim kemarau. Aktivis tersenyum, bilang alhamdulillah. Rakyat berharap. Negara tampak gagah.

    Namun beberapa hari kemudian, Istana menyampaikan klarifikasi yang membuat rakyat spontan berkomentar satu kata saja — pendek, jujur, dan sangat filosofis: koplak. Perusahaan yang izinnya dicabut… tetap boleh beroperasi.

    Alasan Istana mulia: jangan sampai ekonomi terganggu, jangan sampai lapangan kerja hilang. Maka jadilah kebijakan paling unik abad ini: izin dicabut, aktivitas jalan terus. Hukum ditegakkan, tapi sambil duduk. Negara tegas, tapi pakai rem tangan.

    Di titik inilah pidato Davos berubah menjadi ironi. Di Swiss, Prabowo menantang para perampok itu. “Coba beli pejabat saya, kalian akan terkejut,” katanya lantang. Di Tanah Air, justru negara yang tampak terkejut menghadapi kenyataan bahwa mencabut izin ternyata lebih mudah daripada menghentikan mesin perusahaan.

    Ini bukan soal niat. Banyak orang percaya Prabowo sungguh ingin tegas. Ini soal jurang lama antara kata dan laku. Jurang yang sejak bertahun-tahun membuat rakyat memberinya label pahit itu: pemimpin omon-omon.

    Bukan karena tak berani bicara, tapi karena realitas selalu mengecilkan pidatonya. Di Davos, perampok digambarkannya seperti gerombolan bandit film koboi. Di Sumatera, mereka masih menggiling produksi. Di Swiss, hukum ditegakkan seperti palu hakim. Di Indonesia, hukum dibungkus dengan catatan kaki bernama “pertimbangan sosial-ekonomi”.

    Padahal rakyat kecil juga punya pertimbangan: rumah mereka sudah hanyut. Sawah mereka sudah berubah jadi danau. Kuburan keluarga mereka sudah terbuka oleh longsor. BNPB mencatat sekitar 1.200 jiwa melayang dalam bencana hidrometeorologi terakhir. Itu bukan angka yang bisa dinegosiasikan demi stabilitas ekonomi.

    Jika hutan rusak demi lapangan kerja, lalu ketika banjir datang dan pekerjaan hilang bersama rumah, siapa yang bertanggung jawab?

    Davos mungkin memberi tepuk tangan. Tapi Indonesia memberi ujian. Ujian itu sederhana: apakah pidato hanya untuk pemimpin dunia, atau juga untuk rakyat sendiri? Apakah keberanian hanya hidup di forum internasional, atau juga di meja kebijakan domestik?

    Karena bangsa ini sudah terlalu sering melihat api pidato menyala tinggi, lalu padam ketika sampai ke lapangan. Terlalu sering mendengar kata “tegas”, lalu membaca kalimat lanjutan yang diawali dengan “namun”.

    Mungkin benar, menumpas perampok itu tidak mudah. Tapi membiarkan mereka tetap beroperasi setelah dinyatakan melanggar, itu bukan strategi. Itu kontradiksi terang benderang. Paradoksnya paradoks.

    Dan di tengah salju Davos yang putih bersih, sejarah akan mencatat satu hal: pidato bisa menghangatkan ruangan, tetapi hanya kebijakan konsisten yang bisa menghangatkan kepercayaan.

    Jika tidak, maka setiap tepuk tangan dunia akan selalu kalah oleh satu suara rakyat di kolom komentar — pendek, lugas, dan menyakitkan: “Koplak.”





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Normalisasi Kali Ciliwung Diklaim Kunci Pengendalian Banjir Jakarta

    January 29, 2026

    Emas Antam Terus Melesat, Hari Ini Tembus Rp3,16 Juta per Gram!

    January 29, 2026

    IHSG Kena Trading Halt Lagi, Ambruk 8 Persen!

    January 29, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Nico Schlotterbeck Akui Dortmund Kurang Menyerang Saat Ditekuk Inter 2-0

    Berita Olahraga January 29, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Champions: Bek Borussia Dortmund, Nico Schlotterbeck, mengakui bahwa mereka bermain kurang menyerang saat…

    Normalisasi Kali Ciliwung Diklaim Kunci Pengendalian Banjir Jakarta

    January 29, 2026

    Kisah Maarten Paes, Berpotensi Jadi Pemain Timnas Indonesia Pertama dalam Sejarah Liga Champions : Okezone Bola

    January 29, 2026

    Banjir Jakarta Meluas, 20 RT dan 5 Ruas Jalan Terendam Kamis Siang

    January 29, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Nico Schlotterbeck Akui Dortmund Kurang Menyerang Saat Ditekuk Inter 2-0

    January 29, 2026

    Normalisasi Kali Ciliwung Diklaim Kunci Pengendalian Banjir Jakarta

    January 29, 2026

    Kisah Maarten Paes, Berpotensi Jadi Pemain Timnas Indonesia Pertama dalam Sejarah Liga Champions : Okezone Bola

    January 29, 2026

    Banjir Jakarta Meluas, 20 RT dan 5 Ruas Jalan Terendam Kamis Siang

    January 29, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.