Pola tekanan tersebut dinilai menyasar negara-negara yang memiliki sumber daya alam strategis, sekaligus berada dalam posisi kepemimpinan nasional yang rentan.
Pandangan itu mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenland, ‘Siapa’ Target Selanjutnya?” yang digelar secara daring, Sabtu, 31 Januari 2026, diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu geopolitik dan hubungan internasional.
Direktur Eksekutif GIF Teuku Rezasyah menegaskan bahwa negara dengan fragmentasi elite dan legitimasi politik yang lemah lebih mudah menjadi sasaran tekanan eksternal.
“Kasus Venezuela menunjukkan bagaimana fragmentasi elite dan lemahnya legitimasi kepemimpinan membuka ruang intervensi yang luas,” ujarnya.
Namun, Rezasyah menilai Iran berada pada posisi berbeda karena memiliki kepemimpinan ideologis yang mengakar, militer mandiri, dan solidaritas regional yang kuat.
Sementara itu, Greenland dinilai menjadi target strategis baru karena kekayaan sumber daya alam, termasuk rare earth, serta posisi geopolitiknya di kawasan Arktik.
Sementara itu, Peneliti Senior GIF Chandra Purnama menilai langkah AS terhadap Venezuela, Iran, dan Greenland bukan peristiwa terpisah.
“Ini bukan semata ancaman perang langsung, melainkan sinyal taktis untuk menunjukkan dominasi dan menguji respons kekuatan lain,” ujarnya, seraya mengingatkan potensi pelemahan tatanan internasional dan prinsip kedaulatan negara.
Direktur GIF Muhammad Farid menyebut kebijakan Presiden AS Donald Trump dijalankan melalui pendekatan Madman Theory.
“Trump sengaja membangun citra sebagai aktor yang tidak dapat diprediksi untuk menekan lawan dan meningkatkan daya tawar strategis Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia menyebut isu narkotika, imigrasi, hingga keamanan energi kerap dijadikan narasi pembenaran tekanan.
Sementara itu, Peneliti Senior GIF Faisal Nurdin Idris menilai kebijakan AS menunjukkan kembalinya Doktrin Monroe dalam bentuk baru.
“AS memandang kawasan tertentu sebagai halaman belakang strategisnya, terutama ketika merasa terancam oleh dominasi Tiongkok,” ujarnya.
Para narasumber sepakat Indonesia perlu memperkuat ketahanan nasional guna mencegah pengikisan kedaulatan secara bertahap.
Pakar GIF merekomendasikan agar Indonesia memperkuat ketahanan nasional, merumuskan dan mengomunikasikan strategi keamanan nasional secara jelas, serta meningkatkan solidaritas dengan ASEAN, G20, dan negara-negara Global South.

