Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Kalah Tipis di Dortmund, Frank Schmidt Klaim Heidenheim Layak Dapat Poin

    February 2, 2026

    Strategi OJK Berantas Manipulator dan Influencer Nakal

    February 2, 2026

    Terungkap! Bhabinkamtibmas Tak Pukul Penjual Es Jadul, Ini Hasil Pemeriksaan Polisi : Okezone News

    February 2, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Menanti Peran Penting Emas Hadapi Depresi Global

    Menanti Peran Penting Emas Hadapi Depresi Global

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 1, 2026No Comments6 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Namun, jika kita menggali lebih dalam, ada cerita yang jauh lebih kompleks dan dramatis. Ini adalah kisah tentang bagaimana logam mulia bernama emas, yang seharusnya menjadi jangkar stabilitas, justru berubah menjadi senjata yang menghancurkan.


    Perang Dunia I menghancurkan fondasi ekonomi tua, dan upaya keras manusia untuk kembali ke masa lalu (kembali ke standar emas yang kaku) justru menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan mereka sendiri.

    Emas memang berkilau dan melambangkan kekayaan, namun dalam sejarah Depresi Besar, ia menjadi beban yang menyeret seluruh dunia ke dasar samudera kemiskinan.



    Selama Perang Dunia II (1939-1945), Emas berfungsi sebagai aset safe haven utama dan alat pembayaran krusial untuk logistik perang, menyebabkan perpindahan besar-besaran cadangan emas ke Amerika Serikat (Fort Knox). 

    Emas fisik mendominasi transaksi internasional karena mata uang kertas tidak stabil, sementara Nazi Jerman dan Jepang menjarah Emas dalam jumlah besar yang memicu legenda “harta karun” yang hilang. 

    Banyak negara memindahkan emas mereka ke Amerika Serikat untuk mengamankannya, menjadikan AS pemilik mayoritas cadangan Emas dunia selama perang.

    Eropa mengurangi penggunaan emas sebagai cadangan uang, mengakibatkan penurunan permintaan di sana, sementara AS tetap berpegang pada standar Emas.

    Perjanjian Bretton Woods (1944): Perjanjian ini menetapkan dolar AS yang didukung Emas sebagai mata uang cadangan global, menstabilkan ekonomi pasca-perang. 

    Selama konflik, emas diakui sebagai jaminan nilai yang stabil (safe haven) ketika terjadi ketidakpastian geopolitik dan inflasi. Perang Dunia menyebabkan negara mencetak uang melebihi cadangan Emas. 

    Pada 1971, Presiden AS Richard Nixon memutuskan hubungan dolar dengan emas, mengakhiri Bretton Woods System dan menandai transisi ke fiat money (uang kertas tanpa jaminan emas). 

    Meskipun tidak lagi menjadi alat tukar sehari-hari, Emas tetap menjadi cadangan mata uang bagi lembaga keuangan dunia dan alat lindung nilai (investasi) yang aman hingga kini.

    Satu tahun pertama kepemimpinan Donald Trump menandai perubahan besar dalam lanskap ekonomi dan politik global. Dunia yang sebelumnya relatif stabil dalam kerangka multilateralisme tiba-tiba dihadapkan pada kebijakan yang sulit diprediksi: perang dagang, retorika geopolitik yang keras, serta pelemahan komitmen Amerika Serikat terhadap berbagai perjanjian internasional. 

    Dalam konteks ekonomi global, ketidakpastian semacam ini bukan sekadar isu politik, melainkan variabel penting yang mempengaruhi perilaku pasar keuangan.

    Agenda America First mendorong penerapan tarif impor secara agresif, peninjauan ulang perjanjian perdagangan internasional, serta tekanan terbuka terhadap mitra dagang utama Amerika Serikat, termasuk Tiongkok dan Uni Eropa. 

    Ketika arah kebijakan ekonomi sulit diprediksi, volatilitas meningkat, dan risiko geopolitik menguat, pasar tidak lagi mengejar imbal hasil tertinggi, melainkan keamanan nilai. Dalam konteks inilah emas kembali menempati posisi strategis sebagai instrumen pelindung kekayaan global.

    Kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir dapat dibaca sebagai refleksi langsung dari meningkatnya ketidakpastian global sejak era kepemimpinan Trump. 

    Pada awal masa kepemimpinannya, harga emas masih berada di kisaran USD 2.800 per troy ounce. Hingga awal 2026, harga emas telah menyentuh kisaran USD 5.100/per troy ounce.

    Lonjakan ini bukan semata-mata fenomena spekulatif, melainkan respons rasional pasar terhadap lingkungan global yang sarat risiko dan minim kepastian.

    Telur Angsa dan Emas

    Investor legendaris dunia Warren Buffet dikenal memiliki strategi cerdas dalam mengelola keuangan.

    Meski begitu, Buffet secara konsisten menunjukkan ketidaktertarikannya terhadap investasi Emas. Apa alasannya?

    Pandangan tersebut cukup kontras dengan persepsi umum, karena Emas sering dianggap sebagai instrumen safe haven. Investasi yang relatif aman saat terjadi gejolak ekonomi.

    “Emas digali dari tanah di Afrika, atau di suatu tempat. Lalu kami meleburnya, menggali lubang lagi, menguburnya lagi, dan membayar orang untuk menjaganya. Itu tidak ada gunanya,” kata Buffett soal logam mulia itu.

    Dia menganalogikan bahwa jauh lebih baik memiliki “angsa yang terus bertelur daripada angsa yang hanya duduk di sana dan memakan asuransi dan penyimpanan dan beberapa hal seperti itu”.
     
    Ekonom dan profesor ekonomi terapan dari Johns Hopkins University, Steve Hanke, menanggapi kritik lama Warren Buffett terhadap emas dengan menegaskan bahwa logam mulia tersebut memiliki peran jauh lebih besar dalam melindungi kekayaan dibandingkan yang selama ini diakui oleh investor legendaris itu.

    Komentar Hanke muncul sebagai respons atas pandangan Buffett yang sejak lama menganggap Emas sebagai aset non-produktif. 

    Buffett juga sering menggambarkan emas sebagai instrumen perdagangan berbasis ketakutan, sebab nilainya biasanya meningkat ketika investor cemas terhadap ketidakstabilan ekonomi.

    Namun, melalui unggahan di X pada 21 November 2025, Hanke menantang pandangan tersebut dengan menekankan bahwa fungsi utama Emas bukanlah bertindak sebagai aset produktif, melainkan sebagai bentuk asuransi.

    Sinyal bahaya di pasar keuangan global semakin nyaring terdengar. Investor legendaris Warren Buffett, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kritikus keras investasi emas, kini disebut telah mengubah haluannya. 

    Perubahan sikap ini langsung ditangkap oleh penulis buku “Rich Dad Poor Dad,” Robert Kiyosaki, sebagai pertanda akan datangnya krisis besar.

    Melalui unggahan di media sosial X pada Rabu (1/10/2025), Kiyosaki mengaku terkejut dengan minat baru Buffett terhadap logam mulia. 

    Selama ini, CEO Berkshire Hathaway itu selalu memandang Emas sebagai aset yang tidak produktif dan nilainya hanya didorong oleh rasa takut pasar, bukan fundamental ekonomi.

    Kiyosaki menafsirkan langkah Buffett ini sebagai sinyal kuat akan terjadinya gejolak besar di pasar saham dan obligasi. “Itu artinya depresi ekonomi di depan mata,” tulis Kiyosaki di akun media sosialnya.

    Pandangan Kiyosaki ini sejalan dengan analisis pasar yang menyebutkan lonjakan harga emas saat ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk pelemahan dolar AS, inflasi, ketidakpastian politik akibat potensi penutupan pemerintahan AS, dan meningkatnya risiko geopolitik.

    Perubahan sikap seorang investor sekaliber Warren Buffett, ditambah dengan kondisi ekonomi global yang tidak stabil, membuat banyak pihak kini waspada terhadap potensi guncangan hebat di pasar keuangan. Kiyosaki pun mengingatkan para investor untuk bersiap menghadapi kemungkinan turbulensi pasar dengan melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko.

    Masa Depan Emas

    Robert Kiyosaki, kembali menyuarakan pandangan optimistis terhadap emas. Terbaru, ia memprediksi harga emas berpotensi menembus 27.000 dollar AS per troy ounce di tengah tren kenaikan harga logam mulia. Sebelumnya, dalam unggahan di media sosial pada Senin, 26 Januari 2026, Kiyosaki merayakan lonjakan harga emas yang telah mencetak rekor baru di atas 5.000 Dolar AS per troy ounce.

    Prediksi tersebut menjadikan Kiyosaki sebagai salah satu tokoh paling optimistis terhadap prospek emas di pasar global. Meski demikian, Kiyosaki mengakui prediksi tersebut bisa saja meleset. “Saya bisa saja salah.”

    Dengan demikian, kedua Perang Dunia telah menjelaskan bahwa emas memiliki peranan. Depresi Ekonomi pernah terjadi. Apakah akan terulang. Saat ini apa  yang akan terjadi di pasar saham dan obligasi jika terjadi turbulensi?

    Kebijakan Tarif dari Trump hingga kini belum sepenuhnya disetujui oleh negara Barat, G 7. Demikian juga dengan negara anggota BRICS. Kenaikan harga emas yang terbang ke bulan memberikan jawaban untuk adanya “aset pengaman” yang baku.

    Dunia saat ini terguncang tanpa ada kepastian lanskap di ranah ekonomi, politik dan hukum Internasional. 

    Sepertinya saat ini,  dunia sedang menderita “penyakit hati yang galau” dan  hanya dapat disembuhkan dengan Emas? Hal ini berarti kembali emas memainkan peran menjadi sang Primadona.

    *Penulis adalah Eksponen Gema 77/78





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Strategi OJK Berantas Manipulator dan Influencer Nakal

    February 2, 2026

    Ansor Tangerang Ungkap Kondisi Korban Dugaan Penganiayaan Bahar Smith

    February 2, 2026

    Khamenei Ingatkan Risiko Perang Regional jika AS Berani Serang Iran

    February 2, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Kalah Tipis di Dortmund, Frank Schmidt Klaim Heidenheim Layak Dapat Poin

    Berita Olahraga February 2, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Jerman: Pelatih FC Heidenheim, Frank Schmidt, mengklaim timnya tidak layak mendapatkan kekalahan…

    Strategi OJK Berantas Manipulator dan Influencer Nakal

    February 2, 2026

    Terungkap! Bhabinkamtibmas Tak Pukul Penjual Es Jadul, Ini Hasil Pemeriksaan Polisi : Okezone News

    February 2, 2026

    Ansor Tangerang Ungkap Kondisi Korban Dugaan Penganiayaan Bahar Smith

    February 2, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Kalah Tipis di Dortmund, Frank Schmidt Klaim Heidenheim Layak Dapat Poin

    February 2, 2026

    Strategi OJK Berantas Manipulator dan Influencer Nakal

    February 2, 2026

    Terungkap! Bhabinkamtibmas Tak Pukul Penjual Es Jadul, Ini Hasil Pemeriksaan Polisi : Okezone News

    February 2, 2026

    Ansor Tangerang Ungkap Kondisi Korban Dugaan Penganiayaan Bahar Smith

    February 2, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.