Kini, di bulan-bulan ini, istilah “reset” bergulir dalam perbincangan publik. Dari refleksi tokoh seperti Pak Dharma Pongrekun dan Mbah Setu, hingga narasi-narasi fiksi ilmiah yang menggambarkan peradaban yang dirombak total. Ada kegelisahan kolektif: apakah peradaban kita sudah sampai pada titik di mana hanya “reset total” yang tersisa sebagai solusi?
Ketika Langit dan Bumi Menanti Pergantian
Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 19-20:
“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (khalqan jad?d). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak berat bagi Allah.”
Ayat ini bukan sekadar peringatan teologis, melainkan sunnatullah — hukum alam yang berlaku dalam sejarah peradaban. “Khalqan jadid” (makhluk baru) dalam ayat ini menggambarkan kemampuan mutlak Allah untuk mengganti satu generasi dengan generasi lain, satu peradaban dengan peradaban baru, ketika yang lama sudah melampaui batas kerusakan. Ini adalah hard reset versi Ilahi.
Manusia sebagai Mikrokosmos yang Merusak Makrokosmos
Manusia, dalam tradisi pemikiran Islam, adalah al-insan al-kamil — makhluk yang merangkum semesta dalam dirinya (mikrokosmos). Namun ketika mikrokosmos ini rusak — ketika fitrah dinodai, akal diselewengkan, hati dikunci, maka kerusakan itu merembet ke makrokosmos: alam semesta di sekitarnya.
Dan kini, anomali-anomali itu bukan lagi prediksi, melainkan realitas yang kasat mata. Lihatlah: Iklim yang kacau balau; ketimpangan ekonomi yang mencekik; dekadensi moral yang dinormalisasi; kebenaran yang ditertawakan, kebatilan yang diagungkan.
Ketika amar ma’ruf (menyeru kebaikan) dibalas dengan amar munkar (penyeruan pada kemunkaran), ketika para penyeru kebenaran justru ditekan, dilecehkan, bahkan dilenyapkan — maka sistem sudah corrupt, file peradaban sudah rusak parah. “Sumun, Bukmun, Umyun, Fahum La Yarji’un“
Allah menggambarkan kondisi manusia yang sudah melewati titik balik dalam Al-Baqarah ayat 18: “(Mereka) tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali (ke jalan yang benar).”
Ini adalah kondisi system failure total. Tidak ada lagi kemungkinan perbaikan internal. Input kebenaran tidak lagi diproses. Sensor moral sudah mati. Ketika mayoritas sudah sampai pada tahap ini, maka reset bukan lagi pilihan — ia menjadi keniscayaan.
Reset sebagai Rahmat bagi Orang-Orang Saleh yang Tertekan
Inilah yang sering terlupakan — reset dalam sunnatullah Allah bukanlah murka semata. Ia juga rahmah (rahmat) bagi mereka yang tetap istiqamah di tengah tekanan zaman.
Sejarah mencatat: kaum Nuh yang sedikit diselamatkan ketika banjir besar menyapu peradaban lama. Nabi Ibrahim yang dilindungi dari kobaran api. Kaum Musa yang dibebaskan dari perbudakan Firaun yang zalim. Setiap reset adalah penghancuran sekaligus pembebasan.
Bagi orang-orang saleh yang tertindas, yang lelah berdakwah tanpa respons, yang letih bersabar menghadapi kezaliman — reset adalah kabar gembira. Ia adalah janji bahwa ketidakadilan tidak akan abadi. Bahwa Allah tidak tidur. Bahwa hard reset Ilahi akan mengembalikan tatanan kepada yang seharusnya.
Anomali di Depan Mata, Kesadaran di Ujung Waktu
Maka ketika di bulan ini kita mendengar bisikan tentang “reset” dari berbagai penjuru –baik dari para sesepuh, para pemikir, maupun narasi-narasi fiksi — jangan abaikan. Bisa jadi itu adalah bisikan kolektif dari fitrah yang masih tersisa, alarm dari alam bawah sadar peradaban yang merasakan kedekatan dengan titik kritis.
Anomali sudah tampak. Pertanyaannya: apakah kita bagian dari sistem yang rusak dan akan di-reset, atau bagian dari “generasi baru” yang akan Allah hadirkan setelahnya?
Penutup
Reset dalam teknologi membutuhkan tombol. Reset dalam sejarah peradaban membutuhkan kehendak Ilahi. Dan kehendak Ilahi itu berjalan melalui sunnatullah — hukum sebab-akibat yang telah Dia tetapkan.
Ketika kerusakan sudah sistemik, ketika mayoritas sudah sumun bukmun umyun, ketika orang baik sudah terpojok — maka bersiaplah. Karena seperti kata-Nya sendiri: “wa m? dzalika ‘alallahi bi ‘aziz” — dan yang demikian itu tidaklah berat bagi Allah.
Dedi Waryidi
Pemerhati Sosial tinggal di Bandung

