Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pakar soal Anggaran Pertahanan Naik: Perkuat Industri Dalam Negeri

    February 10, 2026

    Hasil Pertandingan Premier League: Chelsea 2-2 Leeds United

    February 10, 2026

    Hasil Liga Inggris 2025-2026: Manchester United Tersandung di Markas West Ham United, Chelsea Ditahan Leeds United! : Okezone Bola

    February 10, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Olahraga»Cadillac F1: Asimetri Berisiko Seperti Kasus BAR 1999

    Cadillac F1: Asimetri Berisiko Seperti Kasus BAR 1999

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 10, 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Ligaolahraga.com –

    Berita F1: Cadillac telah memutuskan untuk meluncurkan konsep livery F1 pertama mereka dengan desain asimetris yang mencolok. Langkah ini tergolong berani dan langsung menarik perhatian banyak pihak. Namun, sejarah menunjukkan bahwa inovasi semacam ini dapat membawa risiko, terutama bagi tim Amerika yang baru saja memasuki ajang F1.

    Pada akhir 1990-an, British American Racing (BAR) menghadirkan salah satu livery paling terkenal dalam sejarah olahraga ini. Kemiripan dengan Cadillac sulit diabaikan, dan musim debut BAR bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Ketika Craig Pollock mengakuisisi tim legendaris Tyrrell pada Desember 1997 seharga £30 juta, ia melakukannya dengan dukungan penuh dari raksasa tembakau British American Tobacco.

    BAR resmi masuk F1 pada 1999, dengan Pollock sebagai kepala tim, Adrian Reynard sebagai direktur teknis sekaligus pemegang saham minoritas, dan juara dunia F1 1997 Jacques Villeneuve sebagai pembalap utama. Di atas kertas, kombinasi ini tampak menjanjikan. Reynard Motorsport telah meraih kesuksesan besar di Formula Ford, Formula 3, Formula 3000, dan CART. Villeneuve membawa reputasi, kecepatan, dan daya tarik bintang. Dukungan finansial praktis tak terbatas. Pollock bahkan menyatakan sebelum musim dimulai bahwa BAR akan “menantang McLaren dan Ferrari.”

    Namun, F1 memiliki kebiasaan menghukum kata-kata besar — dan hal pertama yang dilihat dunia dari tim baru bukanlah ambisinya, melainkan mobilnya. Dan BAR memastikan bahwa tidak ada yang akan mengabaikan BAR 01.

    Livery dengan Ritsleting

    Pada 6 Januari 1999, BAR meluncurkan bukan satu, tetapi dua mobil. Mobil Villeneuve dihiasi warna putih, hitam, dan merah dari Lucky Strike, sementara mobil rekan setimnya, Ricardo Zonta, memakai biru dan kuning dari sponsor 555. Bahkan seragam balap kedua pembalap berbeda. Niatnya adalah untuk menampilkan kedua livery tersebut di Grand Prix Australia — sebuah langkah pemasaran yang cerdas, setidaknya dalam teori. Namun, FIA turun tangan.

    Regulasi mengharuskan kedua mobil dari tim yang sama memiliki livery yang hampir identik, dengan hanya variasi kecil yang diizinkan. BAR terpaksa berimprovisasi, dan solusinya sama terkenal dengan kreativitasnya. Hasilnya adalah satu mobil yang terbelah di tengah: Lucky Strike di kiri, 555 di kanan, dipisahkan oleh grafis ‘ritsleting’ yang melintas di hidung. Sayap belakang mengikuti logika yang sama, dengan 555 di satu sisi dan Lucky Strike di sisi lainnya.

    Para mekanik mengenakan seragam setengah-setengah untuk menyesuaikan. Hanya para pembalap yang mempertahankan seragam asli mereka. Konsep ini memenuhi aturan, tetapi opini publik brutal. Namun, BAR dapat menghibur diri dengan satu pemikiran: jika hasilnya bagus, livery tersebut akan cepat dimaafkan. Ternyata tidak.

    Kenyataan yang Menyakitkan

    Semakin besar harapan, semakin keras jatuhnya. Reynard bahkan menyarankan sebelum pembukaan musim bahwa kemenangan di Albert Park mungkin terjadi. “Kenapa tidak?” katanya — kata-kata yang segera menghantui tim. Grand Prix Australia adalah bencana. Villeneuve kualifikasi di posisi 11, lebih dari 2,5 detik dari Mika Häkkinen yang meraih pole. Zonta hampir empat detik lebih lambat dan memulai di posisi 19.

    Balapan bahkan lebih buruk. Sayap belakang Villeneuve gagal pada kecepatan tinggi setelah 14 lap, membuatnya mengalami kecelakaan berat. Zonta keluar sepuluh lap sebelum finis karena kegagalan gearbox. Itu baru permulaan. Villeneuve memulai musim dengan 11 kali gagal finis berturut-turut. Kegagalan hidraulis, masalah gearbox, poros penggerak rusak — BAR 01 penuh dengan masalah. Pembalap asal Kanada itu akhirnya melihat bendera finis untuk pertama kalinya di balapan ke-12 di Belgia, finis di posisi 15 yang jauh.

    BAR mengakhiri tahun 1999 tanpa satu pun poin. Posisi ketujuh untuk pembalap pengganti Mika Salo — menggantikan Zonta setelah kecelakaan berat di Brasil — adalah hasil terbaik tim. Baik Villeneuve maupun Zonta tidak pernah finis lebih tinggi dari kedelapan. BAR berada di posisi terakhir dalam kejuaraan konstruktor, di belakang Arrows dan Minardi, tim yang sering beberapa detik lebih lambat per lap. Pembicaraan tentang McLaren dan Ferrari lenyap seketika.

    Pelajaran yang Dipetik

    Pada tahun 2000, BAR mengubah haluan. Livery terbelah ditinggalkan. Lucky Strike tetap ada, tetapi dalam desain putih, hitam, dan merah yang bersih dan sederhana — tidak ada lagi gimmick visual. Efeknya langsung terasa. Kedua pembalap mencetak poin di balapan pembuka musim, sebuah kelegaan setelah penghinaan tahun 1999. Tampilan Lucky Strike itu kemudian mendefinisikan identitas BAR dan menjadi favorit penggemar, jauh lebih selaras dengan ambisi jangka panjang tim.

    BAR tidak pernah memenangkan Grand Prix, tetapi meraih 15 podium dan finis kedua dalam kejuaraan konstruktor pada 2004. Setelah 2005, tim menjadi Honda dan memenangkan Grand Prix Hungaria berkat Jenson Button pada 2006. Kemudian, pada 2009, Button memenangkan kejuaraan pembalap F1 saat tim menjadi Brawn GP. Tim berbasis di Brackley ini memenangkan gelar konstruktor tahun itu juga, dan akhirnya berkembang menjadi tim Mercedes saat ini — dengan kesuksesan yang cukup besar.

    Peringatan dari Sejarah?

    BAR 01 tetap menjadi kisah peringatan — tentang kepercayaan diri yang berlebihan, ide pemasaran yang terlalu jauh, dan harapan yang sangat tidak sesuai dengan kenyataan. Setidaknya, itu meninggalkan F1 dengan salah satu livery paling berkesan. Kreatif, ya. Sukses, sama sekali tidak. Bagi Cadillac, perbandingan ini tak terhindarkan. Tim Amerika. Musim debut. Livery asimetris yang dirancang untuk menonjol. BAR mencoba sesuatu yang serupa seperempat abad yang lalu, dan berakhir dengan kegagalan total.

    Ide-ide berani dapat membantu mendefinisikan identitas baru — tetapi sejarah menunjukkan bahwa, dalam F1, mendapatkan dasar yang benar jauh lebih penting daripada sekadar menarik perhatian. Cadillac mungkin berharap desain terbagi mereka menjadi simbol inovasi. BAR adalah pengingat bahwa itu dapat dengan mudah menjadi tanda peringatan.

    Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/f1/cadillac-f1-asimetri-berisiko-seperti-kasus-bar-1999





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Hasil Pertandingan Premier League: Chelsea 2-2 Leeds United

    February 10, 2026

    Dominasi Canelo Alvarez Runtuh, Kelas 168 Pon Masuki Era Baru

    February 10, 2026

    Tekad Teja Bawa Kemenangan di Leg Pertama 16 Besar ACL-2

    February 10, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Pakar soal Anggaran Pertahanan Naik: Perkuat Industri Dalam Negeri

    Berita Teknologi February 10, 2026

    Jakarta, CNN Indonesia — Alokasi anggaran pertahanan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang…

    Hasil Pertandingan Premier League: Chelsea 2-2 Leeds United

    February 10, 2026

    Hasil Liga Inggris 2025-2026: Manchester United Tersandung di Markas West Ham United, Chelsea Ditahan Leeds United! : Okezone Bola

    February 10, 2026

    Korupsi Ekspor POME Rugikan Negara Rp14,3 Triliun

    February 10, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Pakar soal Anggaran Pertahanan Naik: Perkuat Industri Dalam Negeri

    February 10, 2026

    Hasil Pertandingan Premier League: Chelsea 2-2 Leeds United

    February 10, 2026

    Hasil Liga Inggris 2025-2026: Manchester United Tersandung di Markas West Ham United, Chelsea Ditahan Leeds United! : Okezone Bola

    February 10, 2026

    Korupsi Ekspor POME Rugikan Negara Rp14,3 Triliun

    February 10, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.