Rumah (Foto: Okezone)
JAKARTA – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memastikan target program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2025 tercapai.
Perseroan mengaku harus menarik pendanaan eksternal melalui penerbitan surat utang demi menutupi kekurangan pendanaan untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo menjelaskan bahwa langkah ini diambil karena kebutuhan dana di lapangan melampaui kapasitas modal yang tersedia, meskipun pemerintah telah memberikan dukungan besar.
“Jadi kami harus mengeluarkan surat utang lagi, nombokin, supaya target daripada 350.000 unit rumah itu tercapai,” ujar Ananta dalam Media Briefing di Surakarta dikutip, Jumat (13/2/2026).
Pada tahun 2025, pemerintah mematok target ambisius pembiayaan sebanyak 350.000 unit rumah. Namun, hingga saat ini, realisasi baru menyentuh angka sekitar 290.000 unit atau kisaran 80 persen dari target.
Untuk mengejar sisa kuota tersebut, SMF telah menyalurkan dana antara Rp8 triliun hingga Rp9 triliun sepanjang tahun 2025. Jumlah ini tercatat lebih besar dibandingkan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp6,8 triliun yang diterima perseroan pada tahun yang sama, sehingga penerbitan surat utang menjadi solusi untuk menambal selisih dana tersebut.
Dalam arsitektur program 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah, SMF memegang peran krusial sebagai penyedia 25 persen dari total pembiayaan FLPP secara nasional. Sementara itu, sisa 75 persen pendanaan disokong oleh pemerintah melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).
Sejak memulai kontribusinya pada tahun 2018 hingga saat ini, SMF tercatat telah menyalurkan total akumulasi dana sekitar Rp34 triliun. Dana tersebut telah membantu akses kepemilikan hunian bagi kurang lebih 904.000 unit rumah di seluruh Indonesia.
(Taufik Fajar)

