Lebih dari sekadar membersihkan, kegiatan ini menjadi wujud kebersamaan warga dan relawan dari 10 kecamatan yang terhubung secara hybrid melalui Zoom.
Tahap pertama program ini melibatkan sekitar 100 mushola, dengan target ambisius menjangkau 880 mushola di seluruh Jakarta Timur selama setahun..
Ketua MD Jakarta Timur, Choir Sarifudin, menegaskan bahwa angka hanyalah salah satu sisi. Lebih penting adalah membangun budaya peduli dan ikatan sosial di tengah masyarakat.
“Ini bukan sekadar mengepel atau mengecat,” kata Choir, dalam pernyataannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 14 Februari 2026.
“Setiap sapuan kain dan sapu di mushola adalah bentuk gotong royong yang menguatkan rasa memiliki dan kebersamaan,” tegasnya.
Para relawan tampak bersemangat. Anak-anak muda, jamaah, hingga pemuka masyarakat saling bahu-membahu. Ada yang membersihkan karpet, mengecat dinding, bahkan menata kembali rak Al Qur’an.
Aktivitas fisik itu ternyata menjadi alat pengikat komunitas, menghidupkan kembali nilai gotong royong yang sempat terlupakan.
MD Jakarta Timur juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Wali Kota Jakarta Timur, yang dianggap memberi dukungan penuh agar kegiatan ini bisa berjalan masif.
Langkah selanjutnya, MD Jakarta Timur berharap Gubernur DKI Jakarta dapat secara resmi mencanangkan Gerakan Sabtu Bersih Mushola, sehingga kebersihan rumah ibadah tidak hanya jadi kegiatan sekali-sekali, tetapi menjadi bagian dari budaya Jakarta Timur.
Bagi masyarakat, program ini lebih dari sekadar bersih-bersih. Ini adalah momentum kebersamaan, tempat orang bertemu, bergotong royong, dan merasakan kembali energi komunitas yang hidup.

