Atlet skeleton Ukraina, Vladyslav Heraskevych, menciptakan momen emosional sekaligus kontroversial di Olimpiade Musim Dingin setelah didiskualifikasi karena menolak mematuhi aturan netralitas politik yang ditetapkan International Olympic Committee (IOC).
Keputusan tersebut kembali memicu perdebatan lama tentang batas antara kebebasan berekspresi dan prinsip netralitas dalam olahraga internasional.
Vladyslav Heraskevych bersikeras mengenakan helm bergambar atlet dan pelatih Ukraina yang tewas akibat invasi Rusia yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Ia menolak mengganti helm tersebut dengan perlengkapan yang disetujui panitia saat lomba resmi digelar di Cortina d’Ampezzo.
Sikap itu membuatnya dicoret dari nomor yang diikutinya, meski ia tidak dikeluarkan dari Olimpiade secara keseluruhan.
Sebelum keputusan diambil, Heraskevych sempat bertemu Presiden IOC, Kirsty Coventry, dalam pertemuan pagi hari yang disebut berlangsung emosional.
Coventry dilaporkan memintanya mempertimbangkan kompromi, termasuk mengenakan ban lengan hitam atau menampilkan helm tersebut setelah lomba selesai.
Namun atlet berusia 27 tahun itu tetap pada pendiriannya.
IOC berpegang pada Piagam Olimpiade, khususnya Rule 50 yang melarang demonstrasi atau propaganda politik, agama, maupun ras di arena pertandingan.
Selain itu, Rule 40 menegaskan atlet wajib mematuhi syarat partisipasi yang ditetapkan penyelenggara, termasuk pembatasan bentuk ekspresi selama kompetisi berlangsung.
Juru bicara IOC, Mark Adams, menegaskan persoalannya bukan pada isi pesan, melainkan menjaga “kesucian arena pertandingan” agar kompetisi tetap fokus pada olahraga.
Kasus ini memicu perdebatan di kalangan pakar hukum olahraga.
Antoine Duval dari Asser Institute menilai penggunaan Rule 40 sebagai dasar sanksi merupakan langkah besar yang bisa berdampak pada masa depan kebebasan berekspresi atlet, bahkan membuka kemungkinan pengawasan lebih ketat terhadap simbol pribadi seperti tato.
Bagi Vladyslav Heraskevych, Olimpiade kali ini merupakan partisipasi ketiga sepanjang kariernya.
Ia sebelumnya tampil di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, hanya beberapa hari sebelum invasi Rusia ke Ukraina dimulai.
Saat itu, ia mengangkat poster bertuliskan “No War in Ukraine” di depan kamera televisi.
IOC memutuskan tidak menjatuhkan sanksi karena pesan tersebut dianggap sebagai seruan perdamaian yang bersifat umum.
Insiden terbaru ini terjadi ketika isu politik kembali menjadi perhatian dalam gerakan Olimpiade, terutama terkait kemungkinan kembalinya Rusia ke kompetisi internasional setelah berbagai sanksi dalam satu dekade terakhir.
Pemerintah Ukraina sendiri mendesak IOC agar tidak memberikan konsesi kepada Rusia sebelum perang berakhir.
Kontroversi yang melibatkan Vladyslav Heraskevych menunjukkan bahwa panggung Olimpiade tidak pernah sepenuhnya terpisah dari realitas dunia.
Di satu sisi, IOC berusaha menjaga netralitas olahraga global; di sisi lain, atlet tetap membawa identitas, pengalaman, dan tragedi nasional mereka ke arena kompetisi.
Ketegangan antara dua hal tersebut kemungkinan akan terus menjadi tantangan bagi Olimpiade di masa depan.
Artikel Tag: olimpiade musim dingin, milano cortina 2026
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/netralitas-olimpiade-diuji-dalam-kasus-atlet-ukraina-vladyslav-heraskevych

