Laporan yang dikutip dari Reuters menyebutkan kondisi perdagangan menjadi tipis karena pusat-pusat keuangan seperti China, Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat banyak yang tutup.
Dikutip dari CNBC Internasional, pergerakan saham Asia cenderung datar meski sebelumnya mencatat kenaikan besar.
Indeks utama Jepang, Nikkei 225, naik tipis 0,2 persen setelah melonjak sekitar 5 persen pekan lalu. Sementara indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang menguat ringan 0,1 persen.
Bursa Korea Selatan yang didominasi saham teknologi sempat melonjak 8,2 persen pekan lalu, sedangkan Taiwan naik hampir 6 persen.
Sentimen pasar tertahan setelah Jepang melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV hanya 0,1 persen (tahunan), jauh di bawah perkiraan 1,6 persen. Data ini mempertegas tantangan berat pemerintah Jepang dalam mendorong pemulihan, sekaligus memperkuat dorongan stimulus fiskal yang lebih agresif.
Chief Investment Officer Vantage Point, Nick Ferres, memperingatkan potensi koreksi tajam pada saham memori di Korea dan Taiwan jika perusahaan teknologi besar mulai menahan belanja modal.
“Rotasi investasi memang bisa menguntungkan pasar negara berkembang, namun reli tajam saham teknologi membuat risiko koreksi semakin besar,” ujarnya.

