Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Barrera Pilih Morales Lebih Hebat dari Pacquiao

    February 16, 2026

    2 Pemain Asing Malut United yang Resmi Jalani Proses Naturalisasi Jadi WNI, Nomor 1 Siap Jadi Mesin Gol Timnas Indonesia : Okezone Bola

    February 16, 2026

    Ruben Loftus-Cheek Tolak Aston Villa, Pilih Bertahan di Milan

    February 16, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Rocky Gerung Singgung Tukang Kayu jadi Tahanan hingga ‘Tut Wuri Malsuin Ijazah’

    Rocky Gerung Singgung Tukang Kayu jadi Tahanan hingga ‘Tut Wuri Malsuin Ijazah’

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 16, 2026No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Mengawali paparannya, Rocky menyelipkan satire.


    “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman… Tukang kayu sebentar lagi jadi tahanan,” ujarnya di hadapan peserta diskusi yang didominasi mahasiswa dan pelajar.

    Rocky kemudian menyoroti kebijakan anggaran pendidikan. Ia menyinggung amanat alokasi 20 persen anggaran untuk pendidikan yang dinilai tidak sepenuhnya terealisasi sesuai tujuan awal.



    “Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG berubah jadi kaus. Kaus pindah ke UNICEF sebagai laporan stunting. It is a crime! Itu pelanggaran hak,” tegasnya. 

    Pakar filsafat dari Universitas Indonesia (UI) itu juga menyinggung situasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam konteks warisan kebijakan sebelumnya.

    Rocky mengibaratkan kondisi Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang terendam air kotor hingga sedagu. 

    “Dua senti saja Prabowo menunduk, air kotor sepuluh tahun itu masuk ke hidungnya. Tenggelam dia,” ujarnya.

    Dalam sesi tanggapan, Otniel Rahadianta Sembiring dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) Yogyakarta pun menyampaikan kegelisahan pelajar.

    “Kami sebagai generasi baru seharusnya membawa ide-ide baru ke dalam demokrasi, tetapi kami dibungkam semena-mena. Sistem yang ada terlalu rigid bagi kami,” ungkapnya.

    Lalu, Ketua MGMP Bahasa Inggris DIY, Ismi Fajarsih, pun turut mengkritik perubahan kebijakan pendidikan yang dinilai sering tidak berbasis kajian mendalam.

    “Kita itu sukanya kasih parasetamol, memberikan masking effect. Penyakitnya hilang sebentar, tapi kita tidak tahu sebab aslinya apa,” ujarnya.

    Semantara itu, Ekonom Rimawan Pradiptyo dalam forum yang sama menyinggung fenomena institutional decay atau pelemahan kelembagaan.

    Lantas, Rocky kembali menyentil praktik di dunia pendidikan.

    Ia membandingkan pendidikan di Prancis yang lahir dari solidaritas manusia pasca-Revolusi Prancis saat kepala Raja Louis dipenggal untuk membuktikan kekuasaan di tangan rakyat dengan Indonesia yang masih terjebak feodalisme. 

    “Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah,” sindir Rocky.

    Selanjutnya, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga hadir sebagai pembicara. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menjalankan kebijakan publik.

    “Masyarakat sudah tahu buang air di sungai itu bikin mencret, infrastruktur jamban sudah dibangun, tapi mereka tetap ke sungai. Kenapa? Karena otaknya sudah paham, tapi pantatnya belum paham kalau belum kecelup air sungai,” ujar Hasto disambut tawa hadirin.

    Forum ini dipandu Aryo Seno Bagaskoro dari Pandu Negeri. Sebelum diskusi, Seno bersama rombongan melakukan kunjungan ke Pendopo Agung Taman Siswa untuk menelusuri jejak perjuangan Ki Hajar Dewantara.

    “Pendidikan itu adalah membangun manusia, bukan soal bagaimana pendidikan itu dikapitalisasi atau diprivatisasi. Kami ingin memastikan esensi pendidikan yang memerdekakan tetap terjaga,” ujar Seno.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Ramadan dan Contoh Baik untuk Negeri

    February 16, 2026

    Legislator Demokrat Apresiasi Kinerja BGN dalam Sukseskan MBG

    February 16, 2026

    Saya Merasa Belum Berbuat Apa-apa

    February 16, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Barrera Pilih Morales Lebih Hebat dari Pacquiao

    Berita Olahraga February 16, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Tinju legenda tinju asal Meksiko, Marco Antonio Barrera, baru-baru ini mengungkapkan satu petarung…

    2 Pemain Asing Malut United yang Resmi Jalani Proses Naturalisasi Jadi WNI, Nomor 1 Siap Jadi Mesin Gol Timnas Indonesia : Okezone Bola

    February 16, 2026

    Ruben Loftus-Cheek Tolak Aston Villa, Pilih Bertahan di Milan

    February 16, 2026

    Ramadan dan Contoh Baik untuk Negeri

    February 16, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Barrera Pilih Morales Lebih Hebat dari Pacquiao

    February 16, 2026

    2 Pemain Asing Malut United yang Resmi Jalani Proses Naturalisasi Jadi WNI, Nomor 1 Siap Jadi Mesin Gol Timnas Indonesia : Okezone Bola

    February 16, 2026

    Ruben Loftus-Cheek Tolak Aston Villa, Pilih Bertahan di Milan

    February 16, 2026

    Ramadan dan Contoh Baik untuk Negeri

    February 16, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.