Di Singapura, keluarga Muslim Tionghoa menyusun jeruk mandarin di atas meja. Di Beijing, seorang anak kecil memegang amplop merah dengan mata berbinar.
Bahasanya berbeda. Negaranya berbeda. Agamanya berbeda.
Namun ketika jam berganti, satu kalimat melintasi samudra dan batas negara.
“Gong Xi Fa Cai”
Selamat. Semoga makmur.
-000-
Lebih dari tiga milenium lalu, sekitar abad ke-14 sebelum Masehi pada masa Dinasti Shang, masyarakat agraris Tiongkok menandai pergantian musim dingin dengan ritual syukur.
Pada Dinasti Zhou abad ke-11 sebelum Masehi, ritus itu makin terstruktur sebagai upacara pergantian tahun.
Panen disyukuri. Benih baru didoakan. Tahun ditutup seperti kitab yang selesai dibaca, lalu dibuka kembali seperti janji yang belum ditulis.
Legenda tentang makhluk Nian yang muncul setiap akhir musim dingin melahirkan warna merah, bunyi petasan, dan cahaya api. Merah menjadi keberanian.
Suara menjadi tanda kehidupan. Api menjadi pernyataan bahwa manusia tidak tunduk pada gelap.
Pada Dinasti Han sekitar abad ke-2 sebelum Masehi, terutama setelah reformasi kalender Taichu pada 104 sebelum Masehi, perayaan ini dilembagakan sebagai awal tahun resmi.
Pada Dinasti Tang abad ke-7, ia menjelma pesta rakyat dengan pasar malam dan pertunjukan. Pada Dinasti Song abad ke-10, penghormatan leluhur dan makan bersama keluarga menjadi inti.
Sejak abad ke-19, ketika diaspora Tionghoa berlayar ke Asia Tenggara, Amerika, dan Australia, Imlek ikut menyeberang lautan. Ia berubah rupa, tetapi tidak kehilangan jiwa.
Tradisi mudik yang kini dikenal sebagai Chunyun menjadi migrasi tahunan terbesar di dunia. Ratusan juta perjalanan terjadi setiap musim Imlek.
Kereta penuh. Jalan raya padat. Bandara sesak. Seakan seluruh bangsa bergerak bukan karena perintah negara, melainkan karena panggilan asal-usul.
-000-
Gong Xi Fa Cai bukan nama hari raya. Ia hanyalah ucapan. Namun ucapan itu memuat doa kolektif agar hidup terus berputar dan rezeki terus mengalir.
Simbol-simbolnya lahir melalui waktu dan membentuk museum hidup peradaban. Setiap generasi menambah makna tanpa menghapus yang lama.
Barongsai dan naga telah dikenal sejak Dinasti Han dan berkembang megah pada Dinasti Tang abad ke-7. Ia melambangkan energi kosmik dan perlindungan.
Angpao merah mulai tercatat pada Dinasti Ming abad ke-14 dan Dinasti Qing abad ke-17 sebagai simbol perlindungan anak dan doa kemakmuran.
Jeruk mandarin menjadi tradisi luas sejak Dinasti Qing abad ke-17 karena bunyinya menyerupai kata emas dalam dialek Kanton.
Mie panjang umur telah dikenal sejak era Han dan makin populer pada era Song abad ke-10 sebagai simbol keberlanjutan hidup.
Lampion merah digunakan sejak Dinasti Han dan dipopulerkan luas pada era Tang sebagai cahaya di musim dingin dan penuntun harapan.
Di Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga San Francisco, tradisi ini menyerap warna lokal. Barongsai tampil di pusat perbelanjaan modern.
Kue keranjang berdampingan dengan lapis legit. Namun inti emosinya tetap satu, pulang, berkumpul, memulai lagi.
-000-
Mengapa ia bertahan lebih dari tiga ribu tahun.
Pertama, karena ia bukan milik satu agama. Ia adalah ritus peradaban. Seorang Buddhis, Kristen, Muslim, bahkan yang sekuler dapat merayakannya tanpa merasa meninggalkan iman.
Ia berdiri di atas identitas budaya, bukan dogma. Di dunia yang terpecah oleh keyakinan, Imlek menjadi ruang hening tempat keluarga bertemu tanpa perdebatan teologi.
Kedua, karena ia menjawab kerinduan terdalam manusia pada asal-usul. Modernitas membuat manusia tercerabut dari tanah dan nama leluhur. Imlek memanggil pulang.
Rumah dibersihkan. Hutang dilunasi. Permintaan maaf diucapkan. Di meja makan yang sama, generasi tua dan muda saling memandang. Dalam tatapan itu sejarah diperbarui dan identitas diteguhkan.
Ketiga, karena ia menawarkan kesempatan kedua. Kalender lunar selalu menghadirkan halaman kosong. Tahun boleh gagal. Usaha boleh runtuh. Relasi boleh retak.
Namun Imlek berkata, mulailah lagi. Harapan kolektif inilah yang membuatnya abadi.
-000-
Dua buku membantu memahami daya tahannya.
Jen Sookfong Lee, Chinese New Year: A Celebration for Everyone, 2019. Buku ini menelusuri perjalanan Imlek dari ritual agraris kuno hingga menjadi identitas global diaspora.
Lee menunjukkan bahwa perayaan ini bertahan karena ia elastis. Ia menyerap migrasi dan modernisasi tanpa kehilangan inti keluarga dan harapan.
Carol Stepanchuk dan Charles Wong, Mooncakes and Hungry Ghosts: Festivals of China, 1991. Buku ini mengurai makna antropologis festival-festival Tiongkok.
Tahun Baru Imlek dipahami sebagai mekanisme sosial yang memperbarui solidaritas. Ia bukan sekadar pesta, tetapi sistem nilai yang menjaga memori kolektif lintas generasi.
Apakah Imlek lebih mirip Thanksgiving, Natal, atau Lebaran.
Ia memiliki unsur ketiganya. Syukur agraris seperti Thanksgiving. Pulang kampung seperti Lebaran. Kehangatan keluarga seperti Natal. Namun ia tidak berpusat pada doktrin. Ia berpusat pada waktu dan ingatan.
-000-
Di malam pergantian tahun lunar, di Chinatown New York, di Glodok Jakarta, di Kuala Lumpur, di Beijing, di Sydney, orang-orang berdiri di bawah langit yang berbeda namun menatap bulan yang sama.
Mereka mengucap, “Gong Xi Fa Cai.”
Bukan sekadar harapan kaya.
Tetapi doa agar hidup terus bergerak.
Agar keluarga tetap utuh.
Agar manusia diberi kesempatan menulis ulang nasibnya.
Di era kapitalisme global, Imlek juga digempur iklan dan diskon tanpa henti. Namun di balik gemerlap komersial itu, jutaan keluarga masih bertahan pada satu pusat: meja makan bersama.
Dari syukur atas panen purba hingga doa kemakmuran modern, Imlek adalah jembatan waktu. la abadi karena mampu memeluk perubahan zaman tanpa sedikit pun melepaskan akar terdalamnya: cinta dan kehangatan keluarga.
Imlek mengingatkan bahwa kita semua adalah peziarah waktu yang setiap tahun diberi satu halaman kosong untuk memulai lagi.
REFERENSI
1. Jen Sookfong Lee, Chinese New Year: A Celebration for Everyone, Orca Book Publishers, 2019.
2. Carol Stepanchuk dan Charles Wong, Mooncakes and Hungry Ghosts: Festivals of China, China Books & Periodicals, 1991.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

