Data sementara Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah mencatat lahan pertanian yang terdampak tersebar di sejumlah kecamatan dan masih dalam proses verifikasi lapangan.
Genangan air dengan ketinggian bervariasi membuat tanaman padi yang memasuki fase vegetatif hingga bunting berisiko mengalami kerusakan serius.
Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) telah diturunkan untuk memantau kondisi tanaman di lapangan.
“Petugas memastikan tingkat kerusakan tanaman. Dalam kondisi terendam, deteksi awal memang cukup sulit karena harus menunggu air surut,” ujar Tavares dikutip Kantor Berita RMOLJateng, Selasa malam, 17 Februari 2026.
Menurutnya, apabila genangan berlangsung lebih dari tiga hari, potensi tanaman mati atau puso semakin besar. Akar padi yang terlalu lama terendam dapat membusuk, sementara batang dan daun mengalami klorosis hingga rebah.
Dampak banjir ini tidak hanya mengancam hasil panen petani, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok gabah di wilayah tersebut. Grobogan dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah dengan kontribusi signifikan terhadap pasokan beras regional.
Tahun lalu, Jawa Tengah sempat mencatat luas puso mencapai 35 ribu hektare akibat berbagai faktor bencana hidrometeorologi. Meski tidak berdampak besar terhadap total produksi tahunan, kejadian berulang tetap menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan usaha tani.
Pemerintah daerah saat ini masih melakukan pendataan menyeluruh untuk memastikan luas akhir lahan terdampak dan tingkat kerusakan riil di lapangan. Petani berharap air segera surut agar tanaman yang masih bisa diselamatkan tidak ikut mengalami gagal panen.

