Menurut Rocky, kondisi kegelisahan psikologis Jokowi terlihat dalam infeksi di kulitnya.
“Anda putar kiri kanan dalam matematik berlaku prinsip bila semua variabel dihilangkan, yang tinggal adalah konstanta. Stres adalah konstanta dia (Jokowi). Kenapa beliau stres? Karena gejala post-power syndrome,” kata Rocky dikutip dalam kanal YouTube Refly Harun, Rabu malam, 18 Februari 2026.
“Yang dihadapi oleh banyak pemimpin, ketagihan 10 tahun kekuasaan tiba-tiba berbalik dituduh ijazahnya palsu, stresnya minta ampun itu. Anda bayangkan dari kenikmatan kekuasaan, tiba-tiba terpuruk jadi pesakitan secara politis.Saya bisa bayangkan itu,” tambahnya.
Rocky sebelumnya menilai dengan keluarnya restorative justice yang diberikan kepada Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis seharusnya mampu meredakan kegelisahan psikologis Jokowi.
“Niat restorative justice selalu di dalam upaya untuk menghasilkan ketenangan batin di antara pihak yang bersentuhan. Itu filosofinya,” tegas dia.
Akademisi yang dikenal kritis ini menyebut bahwa restorative berasal dari kata ‘restore’, yang berarti memulihkan, mengembalikan, atau membangun kembali sesuatu ke kondisi semula, posisi awal, atau keadaan fungsional sebelumnya.
“Restore, (artinya) kembalikan, masukkan kembali dalam harmoni, itu namanya restoratif. Sekarang harmonis nggak bangsa ini setelah restorative justice? Makin gila kontradiksinya. Pak Jokowi baca statement di handphone, lihat ILC, dia garuk-garuk kepala lagi, aduh, kok masih begitu ya,” pungkas Rocky.

