Dikutip dari Reuters, pada pembukaan perdagangan Jumat 20 Februari 2026, harga minyak Brent naik 21 sen atau 0,3 persen menjadi 71,87 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 23 sen atau 0,4 persen ke level 66,66 Dolar AS per barel.
Kenaikan ini dipicu pernyataan Trump yang memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan mengenai program nuklirnya dalam 10 hingga 15 hari ke depan. Iran selama ini menyatakan program nuklirnya bertujuan damai, namun Washington menilai program tersebut memiliki unsur militer.
Di sisi lain, Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Langkah itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Iran sempat menutup sementara Selat Hormuz untuk kepentingan latihan militer.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut. Jika konflik pecah di kawasan itu, pasokan minyak ke pasar global bisa terganggu dan mendorong harga naik lebih tinggi.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga ditopang oleh penurunan stok dan ekspor dari negara-negara produsen utama. Data dari Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 9 juta barel, seiring meningkatnya aktivitas kilang dan ekspor.
Sementara itu, ekspor minyak Arab Saudi turun menjadi 6,988 juta barel per hari pada Desember, level terendah sejak September, menurut data Joint Organizations Data Initiative.
Dari sisi ekonomi global, inflasi inti tahunan Jepang pada Januari tercatat 2,0 persen, terendah dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini berpotensi menahan rencana bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga.
Suku bunga rendah di negara pengimpor minyak seperti Jepang umumnya mendukung permintaan energi dan menjadi sentimen positif bagi harga minyak.

