Perjalanan Shane Pitter menuju Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan-Cortina terbilang tidak biasa.
Beberapa tahun lalu, atlet Jamaika itu sama sekali tak memiliki kedekatan dengan es maupun salju.
Kini, ia resmi menjalani debut Olimpiade pada ajang Olimpiade Musim Dingin 2026 sebagai atlet bobsled nomor dua orang putra.
Shane Pitter, 26 tahun, sebelumnya dikenal sebagai pemuda yang gemar memancing dan membuat video tentang kehidupan laut di Jamaika.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai “pemuda yang hidup di Jamaika,” dengan keseharian yang diisi ombak, sinar matahari, dan aktivitas menyelam.
Dunia es dan lintasan bobsled sama sekali asing baginya. “Awalnya saya bahkan tidak tahu apa itu bobsled,” kata Pitter mengenang.
Titik balik terjadi setelah Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
Dalam sebuah ajang atletik, seorang atlet bobsled Jamaika yang tampil di Olimpiade tersebut menghampirinya dan menawarkan kesempatan bergabung dengan tim nasional.
Pitter sempat kebingungan ketika pertama kali mendengar tawaran itu.
Setelah dijelaskan bahwa bobsled adalah kereta kecil yang didorong menuruni lintasan es, ia langsung tertarik.
Namun, panggilan untuk bergabung tak kunjung datang hingga hampir dua bulan.
Atas dorongan sang ibu untuk bersabar, kesempatan itu akhirnya benar-benar tiba.
Setelah resmi masuk tim, Shane Pitter mulai memahami warisan panjang bobsled Jamaika, termasuk kisah empat atlet yang tampil di Olimpiade Calgary 1988 meski berasal dari negara tropis tanpa akses memadai ke es dan salju.
Cerita tersebut kemudian diangkat ke layar lebar melalui film “Cool Runnings”.
“Para perintis itu sangat menginspirasi saya. Bahkan ketika mereka jatuh, mereka tetap mengangkat sled dan menyelesaikan lomba. Itu bukan sekadar kompetisi, itu sportivitas,” ujarnya.
Butuh empat tahun bagi Pitter untuk bertransformasi dari pemula total menjadi atlet Olimpiade.
Pada fase awal, ia kesulitan mengendalikan sled dan kerap menabrak dinding lintasan.
Ia kemudian mempelajari rekaman lintasan dari sudut pandang pembalap untuk memahami setiap tikungan.
Musim ini, Pitter meraih sejumlah medali di ajang North American Cup, termasuk beberapa kemenangan etape.
Kepercayaan dirinya meningkat, meski ia mengaku sempat tak percaya saat pertama kali naik podium.
Di Milano-Cortina, Shane Pitter turun di nomor dua orang putra.
Pada heat ketiga, ia dan rekannya mencatat waktu terbaik mereka, 55,97 detik, namun harus puas finis di peringkat ke-22 dan gagal melaju ke heat final.
“Berada di sini adalah kehormatan, tetapi kami mewakili lebih dari diri kami sendiri. Jamaika tidak hanya datang untuk berpartisipasi. Kami ingin membuktikan diri,” tegasnya.
Di luar lintasan, Pitter tetap dekat dengan laut. Seusai musim kompetisi, ia berencana kembali ke Jamaika untuk memancing dan membuat konten tentang kehidupan di laut.
Meski kini berstatus atlet profesional, ia menilai memancing dan bobsled memiliki kesamaan: fokus, kesabaran, dan tetap tenang di bawah tekanan.
Ke depan, ambisinya jelas. Ia ingin mencatat sejarah dan membuat Jamaika serta kawasan Karibia bangga di panggung dunia.
Artikel Tag: olimpiade musim dingin
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/dari-pemancing-di-jamaika-shane-pitter-debut-olimpiade-di-milano-cortina

