Produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat itu kini menawarkan Cybertruck versi dual-motor all-wheel-drive dengan harga 59.990 Dolar AS (sekitar Rp1 miliar), menjadikannya varian paling terjangkau sejauh ini.
CEO Elon Musk mengatakan di platform X bahwa harga tersebut hanya berlaku selama beberapa hari. Setelah periode itu berakhir, belum jelas apakah harganya akan berubah, dan Tesla belum memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Harga ini berlaku untuk 10 hari ke depan,” tulis Musk, dikutip dari Reuters, Sabtu 22 Februari 2026.
Selain menghadirkan model yang lebih murah, Tesla juga memangkas harga Cyberbeast dari 114.990 Dolar AS (Rp1,9 miliar) menjadi 99.990 Dolar AS (Rp1,6 miliar). Bersamaan dengan pemotongan harga ini, perusahaan tampaknya menghentikan “Luxe Package” yang sebelumnya mencakup fitur Supervised Full Self-Driving dan akses gratis ke jaringan Supercharger. Paket tersebut diperkenalkan pada Agustus lalu ketika Tesla menaikkan harga pikap tersebut.
Sejak awal diperkenalkan, Cybertruck digadang-gadang Musk sebagai pesaing futuristik bagi pikap konvensional dari pabrikan lama seperti Ford Motor Company. Namun dalam perjalanannya, kendaraan ini sempat dihantam sejumlah penarikan kembali (recall) dan persoalan kontrol kualitas, yang membuat sebagian calon pembeli berpikir ulang. Penjualan yang melambat juga diwarnai kabar mundurnya kepala program Cybertruck, Siddhant Awasthi, pada November tahun lalu.
Di saat yang sama, pasar kendaraan listrik secara umum sedang melambat, terutama setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengakhiri kredit pajak federal sebesar 7.500 Dolar AS pada September lalu. Kebijakan tersebut mengurangi insentif bagi konsumen untuk membeli mobil listrik.
Pemangkasan harga kini menjadi bagian penting dari strategi Tesla pada 2026 untuk menarik pembeli yang lebih sensitif terhadap harga. Namun analis mengingatkan, semakin besar porsi kendaraan berharga lebih rendah dapat menekan margin keuntungan, kecuali Tesla mampu menekan biaya produksi atau meningkatkan pendapatan dari perangkat lunak dan layanan.
Di tengah kondisi itu, Musk juga mulai mengarahkan Tesla ke bisnis robotika dan teknologi swakemudi, bahkan berencana menghentikan produksi Model S dan Model X guna memberi ruang bagi pengembangan robot humanoid di pabrik California.

