Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent diperdagangkan di level 71,22 Dolar AS per barel, naik 45 sen atau 0,64 persen. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 42 sen atau 0,64 persen menjadi 66,05 Dolar AS per barel.
Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli, sedangkan WTI mencapai posisi tertinggi sejak awal Agustus. Kenaikan ini terjadi setelah AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah guna menekan Iran agar bernegosiasi terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Kekhawatiran utama investor adalah kemungkinan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan minyak, terutama dari Iran yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, yang menjadi pusat produksi minyak dunia, bisa mendorong harga naik lebih tinggi.
Upaya diplomasi masih berlangsung. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu delegasi Iran dalam putaran ketiga pembicaraan di Jenewa.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai masih belum jelas apakah konsesi Iran akan memenuhi tuntutan AS terkait kebijakan “nol pengayaan” uranium.

