Ferry menilai kebijakan BI terhadap suku bunga saat ini menghadapi dilema.
“Kalau diturunkan, orang meminjam untuk membeli dolar. Kalau dinaikkan, ekonomi tambah reot dan orang juga bisa memburu dolar. Jadi BI mempertahankan,” ujar Ferry, dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 25 Februari 2026.
Menurutnya, intervensi moneter bukanlah solusi utama di negara berkembang.
“Monetary policy itu nomor dua. Yang utama adalah fiscal policy. Kalau fundamental ekonomi tidak diubah, intervensi BI itu seperti menggarami laut,” tambahnya.
Ferry juga menyoroti harapan sebagian pihak terhadap dukungan Amerika.
“Jangan terlalu percaya senyum Presiden Amerika. Itu transaksional. Contohnya soal tarif: barang Amerika masuk 0 persen, barang kita tetap 19 persen. Jadi jangan berharap Amerika menyelamatkan kita dari downgrade,” tandasnya.
Menurut Ferry, masalah utama tetap pada fiskal Indonesia yang mengalami defisit: pengeluaran besar, penerimaan turun, sehingga lembaga pemeringkat seperti Moody’s menurunkan outlook menjadi negatif.
Ferry juga menekankan bahwa kasus pengambilalihan aset tanpa kepastian hukum menjadi sorotan investment banker dan investor.
“Ini membuat investor melihat negara ini tidak konsisten dan berisiko. Kepercayaan investor semakin lama semakin turun karena banyak kebijakan dianggap tidak konsisten,” katanya.
Ferry punmenegaskan pentingnya perbaikan fiskal dan pengelolaan pengeluaran negara.
“Kalau tidak ada perbaikan fiskal dan fundamental, pressure terhadap rupiah akan terus terjadi,” ujarnya.

