Dikutip dari Reuters, Kamis 26 Februari 2026, pada pembukaan perdagangan hari ini minyak Brent naik 0,3 persen ke 71,12 Dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,4 persen menjadi 65,65 Dolar AS per barel. Awal pekan ini, kedua kontrak sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli dan masih bertahan di kisaran tersebut.
AS telah menempatkan kekuatan militer tambahan di Timur Tengah untuk menekan Iran agar menyepakati pembatasan program nuklir dan rudal balistiknya. Utusan Washington dijadwalkan kembali bertemu delegasi Teheran di Jenewa untuk melanjutkan perundingan. Pelaku pasar menilai hasil negosiasi ini akan sangat menentukan arah harga minyak.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan sempat memaparkan alasan bagi kemungkinan serangan. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kesepakatan dengan AS “sudah dalam jangkauan, asalkan diplomasi menjadi prioritas.”
Jika konflik benar-benar pecah dan berlangsung lama, pasokan dari Iran sebagai produsen terbesar ketiga di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), berpotensi terganggu. Arab Saudi bahkan dilaporkan telah meningkatkan produksi sebagai langkah antisipasi, sementara kelompok OPEC+ mempertimbangkan kenaikan output pada April.
Namun, kenaikan harga tertahan oleh lonjakan stok minyak mentah AS sebesar 16 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan analis 1,5 juta barel. Data ini menjadi penyeimbang di tengah kekhawatiran geopolitik, sehingga pergerakan harga selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran.

