Saya membalas: “saya belum mendapat info, akan saya cek dulu ke beberapa teman di Yogya, tentang berita kepergian sahabat kami John Tobing”.
Tak lama, sekitar setengah jam kemudian, di beberapa beranda grup WA aktivis tersiar kabar, John sony Maharsak Lumban Tobing meninggal dunia, Rabu malam pukul 20.45’ di di Rumah Sakit Akademik UGM Yogyakarta.
Kabar ini saya lanjutkan ke sahabat Heroe Dumairi yang tadi menjapri saya dan tak lama di berbagai grup WA terdapat berita yang sama.
John Tobing adalah seorang yang mempunyai jiwa filsafat dan seni. Dua background itu menjadi satu ide dalam kontek perjuangan ketika ia menjadi aktivis mahasiswa.
Salah satu orang dari sekian banyak mahasiswa Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) yang ingin hidup merdeka.
Merdeka berpikir, merdeka berkesenian, merdeka dari penjajahan bangsa sendiri, merdeka dari kemiskinan dan kebodohan. Itulah John Tobing dalam semangatnya.
Rambut gondrong terurai panjang, di dadanya terpasang kalung yang senantiasa melekat. Membuat orang lain terkesan dan tidak akan pernah lupa dengan sosok John Tobing.
Saya mengenalnya sejak 39 tahun lalu. Saat itu saya sering menyambanginya di gedung Filsafat UGM. Saya bergaul dengan teman-temannya John Tobing, seperti Weby Warau, Zul Tery Apsupsi, Sugeng Bagiyo, Untoro Hariadi, Agung, Yayan Sofyan dll.
Kenangan yang sudah begitu lama tapi rasanya terus membekas. Karena teman-teman Filsafat bagi saya memiliki potret kehidupan tersendiri.
Bukan saja asyik dan enak diajak berdiskusi tentang teori-teori Filsafat. Tapi, kawan- kawan itu mempunyai sikap yang kuat dalam perjuangan menuju cita-cita perubahan.
Mereka adalah kaum muda yang selalu gelisah melihat bangsa dan negaranya dibawah penindasan Orde Baru. Tanpa perjuangan mereka, reformasi tak akan pernah ada.
Mereka bangkit memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan membangun kesadaran pada mahasiswa baru, agar memiliki cara berpikir yang progresif bahwa mahasiswa adalah agent of change.
John Tobing adalah sosok yang mempunyai jiwa aktivis yang sangat kental dengan perlawanannya. Di berbagai forum maupun acara, ia tampil membawa Gitar menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Kritis dan sarkasme terhadap penguasa. Kemanapun pergi, John bermain gitar dan menyanyikan lagu Iwan Fals.
Selain itu juga melantunkan lagu Darah Juang yang liriknya di ciptakan oleh Dadang Juliantara, aktivis mahasiswa Fakultas MIPA UGM.
Sekian puluh tahun lalu, saya ditelepon oleh John ketika saya masih tinggal di Jakarta. Kabarnya dia akan pindah dari Pekan Baru, Riau dan akan bermukim di Jakarta.
Menurut info, John sempat bergabung di kantor Kemenaker bersama Muhaimin Iskandar dan Dita Indah Sari. Tapi tampaknya ia tidak betah duduk di kursi pemerintahan.
Jiwa seninya lebih dominan dan memilih tinggal di Yogyakarta. Sekitar dua tahun lalu, saya bertemu John Tobing ketika takziah di kediaman almarhum Raharja Waluyo Jati.
Nampakanya, John Tobing sudah sakit-sakitan. Ia didera penglihatan yang kurang sempurna. Matanya kesulitan untuk melihat. Akibat sakit komplikasinya.
John Tobing menyadari bahwa ia sedang sakit, tetapi semangatnya masih seperti ketika ia menjadi aktivis mahasiswa. Semangat juangnya tak pernah padam meski masa telah berganti.
Ia tetap hidup seperti dalam semangat lagu Darah Juang.
“Bunda relakan darah Juang kami, Padamu kami mengabdi”.
Eko S Dananjaya
Aktivis

