Massa aksi yang diperkirakan berjumlah sekitar 50 orang itu mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan saat ini.
“Suara rakyat adalah kekuatan perubahan. Kami hadir untuk memastikan negara tidak abai terhadap keresahan warganya,” kata koordinator lapangan aksi, Faisal di lokasi.
Faisal juga mendesak penegak hukum mengusut tuntas dugaan teror dan intimidasi terhadap Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Dalam orasinya, massa menilai segala bentuk intimidasi fisik maupun psikis tidak boleh mendapat ruang di era keterbukaan demokrasi. Mereka meminta kepolisian bertindak profesional dan transparan.
Menurut massa aksi, kritik keras terhadap sejumlah kebijakan publik tidak boleh dibalas dengan ancaman.
“Stop memelihara iklim ketakutan. Siapa pun pelakunya harus ditindak tanpa pandang bulu,” demikian salah satu poin orasi yang disiapkan.
Setelah itu, massa juga menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Impor 105.000 Pick-Up Kopdes. Massa menilai program tersebut tidak menyentuh akar persoalan kesejahteraan rakyat dan justru menyisakan polemik di berbagai daerah.
Terakhir, massa juga meminta Indonesia mencabut keanggotaan di Board of Peace (BoP) dengan membayar iuran sebesar Rp17 triliun.

