Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Dorong Inovasi dan Kreativitas Nasional, MNC University Jalin Kerjasama dengan ISI Bali : Okezone Edukasi

    February 28, 2026

    Barcelona Diharapkan Bisa Melewati Hadangan Newcastle

    February 28, 2026

    Diinterogasi Kongres, Bill Clinton Ngotot Tidak Terlibat Kejahatan Epstein

    February 28, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Selat Hormuz dan Senjata Geopolitik Iran

    Selat Hormuz dan Senjata Geopolitik Iran

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 27, 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Kini, AS mengawal diplomasi yang berlangsung alot dengan Iran melalui perantara Oman di Jenewa, Swiss, melalui pengerahan kekuatan militer penuh; kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush, lengkap dengan gugus tempur masing-masing.


    Prinsip dan Cara Pandang Persia

    Iran merespons tekanan AS dengan sikap siaga perang, alih-alih defensif. Sebagai negara yang teralienasi secara kultural di Jazirah Arab dan memiliki pengalaman tempur yang tidak sedikit, adalah sikap yang melukai martabat Bangsa Persia apabila Iran tunduk pada hegemoni dan kuasa unilateral yang dimainkan oleh AS. 



    Pemerintah Iran yang dikomandoi Ayatullah Rohullah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian memerintahkan Korps Garda Revolusi untuk merapatkan barisan, mengintensifkan latihan tempur, serta mengawal setiap sudut batas geografis Iran-darat, laut, udara, dan sistem siber. Iran bahkan tidak segan mengerahkan pesawat pengintai nirawak (drone) untuk memetakan kekuatan pasukan AS yang sudah tiba di Kawasan Teluk.

    Jika melihat agregasi kapasitas militer dan peralatan tempur, AS jauh di atas Iran. Merujuk data Global Fire Power (GFP) 2025 yang mengukur kekuatan suatu negara berdasarkan aspek personel, persenjataan, logistik, anggaran, hingga kesiapan tempur, AS mencatatakan diri sebagai negara terkuat di dunia dengan indeks sebesar 0,074. 

    Indeks tersebut jauh melampaui Iran yang berada di peringkat 16 dunia dengan indeks sebesar 0,3048. Jika pecah perang di antara kedua belah pihak, maka mode perang berbasis udara akan menjadi lanskap pertempuran. Jika hal ini terjadi, secara kuantitatif, lagi-lagi Iran berada pada posisi yang kurang menguntungkan. AS mengoperasikan sekitar 1.790 pesawat tempur dan 1.002 helikopter serang. Jauh dibandingkan dengan Iran yang hanya memiliki 188 pesawat tempur dan 13 helikopter serang.

    Selat Hormuz sebagai Senjata Mematikan Milik Iran

    Lantas apa yang membuat Iran tak sedikitpun menunjukkan kegamangan dalam menghadapi AS? Persoalan mendasarnya bukan pada analisis kuantitatif sistem persenjataan yang dimiliki, ataupun mental tempur Bangsa Persia yang dimiliki. Sebagai sebuah negara kuat di Timur Tengah, Iran memiliki senjata paling mematikan secara geopolitik dan geoekonomi, yakni kepemilikan atas Selat Hormuz. Selat Hormuz secara faktual merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia, di mana sekitar seperlima konsumsi minyak dunia atau 18-19 juta barel per hari (bph) melewati perairan sempit ini, sehingga menjadikannya sebagai titik strategis bagi perdagangan energi internasional. 

    Merujuk data International Energy Agency (IEA), sekitar 25 persen pengiriman minyak mentah jalur laut dan seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global melewati celah sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini. Dengan keunggulan komparatif secara geopolitik tersebut, Iran dapat memainkan mekanisme penutupan Selat Hormuz yang dapat berdampak serius terhadap lonjakan harga minyak mentah dan gas alam cair dunia.

    Utilisasi Selat Hormuz dalam skema peperangan yang dimainkan oleh Iran memiliki akar historis yang kuat. Ketika pada 1984 pecah Perang Teluk antara Iran-Irak, terjadi saling serang kapal tanker di antara negara-negara Teluk Persia, melibatkan lebih dari 100 kapal tanker yang menjadi sasaran, dan membuat lonjakan harga minyak dunia karena rusaknya rantai pasok dan rantai konektivitas yang dijalankan peranannya oleh Selat Hormuz. 

    Setelah serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada perang antara Iran dan Israel pada pertengahan tahun lalu, para pemimpin Iran pada akhirnya membuat keputusan strategis; parlemen Iran memberi mandat kepada angkatan bersenjata untuk menutup Selat Hormuz kapan saja demi alasan keamanan. Langsung atau tidak, open-close game yang dimainkan oleh Iran selama perang dua pekan dengan Israel cukup efektif memaksa AS dan Israel menahan diri, bahkan menghimpun dukungan dari negara-negara Arab yang potensial terdampak oleh kebijakan Iran tersebut.

    Catatan Kritis bagi Indonesia

    Fenomena geopolitik dan geoekonomi yang dimainkan oleh Iran ini perlu menjadi atensi dan catatan kritis bagi para pemangku kebijakan di Indonesia. Setidaknya ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, sebagai negara importir minyak mentah dunia, Indonesia akan terdampak secara langsung oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. 

    Kedua, Indonesia perlu menjadikan strategi perang yang dimainkan oleh Iran sebagai pembelajaran penting di masa mendatang. Indonesia memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang memainkan peranan strategis sebagai jalur pelayaran dan perniagaan internasional, yang mana salah satunya adalah Selat Malaka yang memainkan peranan tak kalah vital apabila dibandingkan dengan Selat Hormuz.

    Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 22,8 juta barel yang melewati Selat Hormuz berdasarkan data yang dibeberkan oleh PT. Pertamina (Persero). Jikalau Iran memberlakukan blokade terhadap selat tersebut, maka harga minyak mentah internasional akan naik. Bagi Indonesia, hal ini akan berdampak pada pembengkakan biaya produksi dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. 

    Hitung-hitungannya, selisih antara harga pokok yang naik dan harga jual BBM yang ditanggung sebagai subsidi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Singkat kata, efeknya akan menghantam peningkatan besaran subsidi BBM nasional yang mempengaruhi ketahanan fiskal pemerintah. Tercatat, besaran subsidi untuk BBM spesifik pada 2026 sebesar 25,14 triliun rupiah yang menjadi bagian integral dari dana sebesar 210,06 triliun rupiah yang dialokasikan pemerintah untuk subsidi energi.

    Selain soal rantai pasok energi dan ketahanan fiskal, pemerintah perlu membenahi tata kelola Selat Malaka dan ALKI secara keseluruhan yang memainkan peran strategis dalam perdagangan internasional Indonesia. Secara geopolitik dan geoekonomi, Selat Malaka berperan sebagai jalur perdagangan internasional, pintu gerbang ekonomi, serta jalur konektivitas Nusantara bagi Indonesia. 

    Selat Malaka memainkan peran sama vital dengan Selat Hormuz karena menjadi jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tenggara, India, dan Eropa. Sekitar 25 persen lalu lintas minyak dunia melalui celah sempit ini. Selain itu, Selat Malaka menjadi akses utama untuk ekspor impor Indonesia sebagai pelabuhan transit strategis untuk komoditas seperti rempah-rempah, lada,kopi, porselen, dan hasil laut.

    Dalam menyikapi gejolak yang potensial muncul di Selat Hormuz menjadi sebuah keharusan bagi Pemerintah Indonesia untuk menerapkan kewaspadaan nasional yang tinggi. Pencermatan terhadap dinamika yang berjalan akan berdampak pada kapasitas mitigatif untuk mengelola risiko di sektor energi dan fiskal yang potensial terpapar. 

    Di sisi lain, jikalau pemerintah berlaku cermat, situasi geopolitik di Timur Tengah seyogyanya menjadi alarm dan katalisator untuk melakukan percepatan transisi energi nasional berbasis EBT sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara Eropa ketika menyikapi perang Rusia dan Ukraina. Pengelolaan ALKI, khususnya Selat Malaka, secara paripurna menjadi sebuah keharusan agar keberadaan jalur-jalur laut strategis tersebut tidak sekadar sebagai keuntungan geografis, tapi fundamen geopolitik dan geoekonomi yang menunjang stabilitas politik dan keamanan nasional.
     
    Boy Anugerah
    Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI & Alumnus FISIP Hubungan Internasional Unpad



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Diinterogasi Kongres, Bill Clinton Ngotot Tidak Terlibat Kejahatan Epstein

    February 28, 2026

    Masyarakat Diminta Waspada dengan Penipuan yang Seret Nama Purbaya

    February 28, 2026

    Negosiasi Tarif AS Jadi Momentum Reformasi dan Penguatan Ekonomi Indonesia

    February 28, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Dorong Inovasi dan Kreativitas Nasional, MNC University Jalin Kerjasama dengan ISI Bali : Okezone Edukasi

    Program Presiden February 28, 2026

    Dorong Inovasi dan Kreativitas Nasional, MNC University Jalin Kerja Sama dengan ISI Bali (Foto: Okezone)…

    Barcelona Diharapkan Bisa Melewati Hadangan Newcastle

    February 28, 2026

    Diinterogasi Kongres, Bill Clinton Ngotot Tidak Terlibat Kejahatan Epstein

    February 28, 2026

    Nasib Elkan Baggott di Ujung Tanduk, Pengamat Inggris Sarankan Perpisahan dengan Ipswich Town : Okezone Bola

    February 28, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Dorong Inovasi dan Kreativitas Nasional, MNC University Jalin Kerjasama dengan ISI Bali : Okezone Edukasi

    February 28, 2026

    Barcelona Diharapkan Bisa Melewati Hadangan Newcastle

    February 28, 2026

    Diinterogasi Kongres, Bill Clinton Ngotot Tidak Terlibat Kejahatan Epstein

    February 28, 2026

    Nasib Elkan Baggott di Ujung Tanduk, Pengamat Inggris Sarankan Perpisahan dengan Ipswich Town : Okezone Bola

    February 28, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.