“Pertanyaannya bukan lagi siapa memulai, melainkan seberapa jauh spiral balas-membalas ini akan bergerak?” kata Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting kepada RMOL, Minggu 1 Februari 2026.
Menurut Ginting, Iran tidak hanya membalas ke wilayah Israel, tetapi juga menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
“Pilihan target ini tidak acak,” kata Ginting.
Serangan balasan Iran tersebut, menurut Ginting, ada dua tujuan strategis:
Pertama, hukuman langsung (punitive retaliation). Iran ingin menunjukkan bahwa serangan terhadap Teheran tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.
“Dengan menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS, Iran berusaha memulihkan kredibilitas militernya di hadapan publik domestik dan sekutu regional,” kata Ginting.
Kedua, membangun kembali daya tangkal (deterrence). Selama ini konflik Iran–Israel berlangsung dalam bentuk perang proksi dan operasi rahasia.
“Serangan langsung Israel-AS ke wilayah Iran meruntuhkan “aturan tak tertulis” tersebut,” kata Ginting.
Jika Iran tidak membalas secara signifikan, maka ia akan dipersepsikan lemah. Hal itu berbahaya bagi rezim maupun posisi geopolitiknya.

