TEHERAN – Situasi di Timur Tengah semakin memanas. Meskipun serangan udara besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel terus menggempur Teheran serta kota-kota besar lainnya, para pemimpin Iran yang tersisa menegaskan sikap pantang menyerah. Mereka kini merapatkan barisan dan bersumpah akan melakukan pembalasan yang lebih keras.
Babak Baru Konflik: Teheran dalam Kepulan Asap
Hingga Minggu (1/3/2026), asap tebal masih menyelimuti wilayah pemukiman di Teheran akibat rentetan serangan rudal. Agresi militer yang dimulai sejak Sabtu lalu ini telah mengubah konstelasi politik regional secara drastis, terutama setelah media pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan tersebut.
Meski kehilangan figur sentralnya, otoritas Republik Islam Iran menekankan bahwa sistem pemerintahan teokrasi mereka tetap memiliki jalur kepemimpinan yang jelas.
Konsolidasi Kepemimpinan dan Sumpah Balas Dendam
Ali Akbar Ahmadian, komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus perwakilan Khamenei di Dewan Pertahanan Tertinggi, menegaskan bahwa lembaga tersebut akan terus beroperasi. Ia menyatakan bahwa gugurnya para pemimpin senior tidak akan menghentikan perlawanan Iran.
“Pemerintahan ini memiliki mekanisme internal yang kuat. Kami akan melanjutkan jalan ini meskipun kehilangan anggota-anggota terbaik kami,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari berbagai tokoh politik:
Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran, memuji mendiang Khamenei sebagai “pahlawan bagi rakyat Iran dan umat Muslim di seluruh dunia.”
Mantan Presiden Mohammad Khatami mengecam pembunuhan tersebut sebagai upaya untuk merusak kemerdekaan dan persatuan Iran. Namun, ia juga kembali menyerukan perlunya reformasi internal guna mematahkan strategi “musuh” dalam melemahkan negara.
Dampak Regional dan Eskalasi Global
Serangan ini tidak hanya terbatas di tanah Iran. Sebagai bentuk balasan, proyektil-proyektil dari Iran mulai diluncurkan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah:
Serangan ke Israel: Setidaknya sembilan orang dilaporkan tewas di kota Beit Shemesh, Israel, akibat hantaman rudal Iran.
Pangkalan Militer AS: Iran mengklaim telah menargetkan setidaknya 27 pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Gangguan Global: Ledakan juga dilaporkan terdengar hingga Doha, Dubai, dan Manama, memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas yang dapat melumpuhkan ekonomi dunia.
Target “Perubahan Rezim”
Pemerintahan Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa tujuan dari operasi militer ini adalah untuk menumbangkan kekuasaan di Teheran. Trump memperingatkan bahwa setiap tindakan balasan dari Iran akan dihadapi dengan kekuatan yang “belum pernah terlihat sebelumnya.”
Di sisi lain, para analis menilai bahwa meskipun kemampuan militer Iran mungkin tidak sebanding dengan gabungan kekuatan AS-Israel, semangat perlawanan dari pasukan IRGC dan Basij tetap menjadi faktor yang sulit diprediksi.
Saat ini, Iran telah membentuk dewan transisi sementara untuk menjalankan roda pemerintahan di tengah hujan rudal yang masih terus berlangsung. Dunia kini menanti, apakah eskalasi ini akan berujung pada perang terbuka total atau perubahan geopolitik permanen di Timur Tengah.
Diterjemahkan dan diadaptasi dari laporan Al Jazeera (1 Maret 2026).

