Kenaikan pasar ini juga didorong oleh optimisme bahwa penutupan pemerintahan federal AS, yang menjadi yang terpanjang dalam sejarah (40 hari), akan segera berakhir.
Nasdaq (yang banyak berisi saham teknologi) memimpin kenaikan dengan melambung 2,27 persen atau 522,64 poin ke posisi 23.527,17 pada penutupan perdagangan Senin 10 NOvember 2025 atau Selasa pagi WIB. Ini adalah kenaikan harian terbaik sejak akhir Mei.
Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,81 persen atau ke 381,53 poin menjadi 47.368,63. Sedangkan indeks berbasis luas S&P 500 melonjak 1,54 persen atau 103,63 poin jadi 6.832,43,
Senat AS telah menyetujui langkah awal rancangan kompromi untuk memulihkan pendanaan federal. Penutupan yang berlangsung lama ini telah menimbulkan kekhawatiran besar akan dampaknya terhadap ekonomi AS, termasuk potensi pembatalan penerbangan dan kesulitan data ekonomi bagi The Fed. Kabar baik dari Washington mengurangi ketidakpastian ini.
Saham teknologi unggulan memimpin lonjakan ini. Analis menyebut ini sebagai fenomena “beli saat harga turun” (buy the dip) setelah sektor ini sempat tertekan pekan lalu.
Saham Nvidia (perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia) melesat 5,8 persen. Saham Palantir (perusahaan analitik data AI) melambung 8,8 persen. Saham Tesla juga ikut menguat 3,7 persen.
Ross Mayfield, analis Baird, mengatakan tema AI tetap kuat karena laporan keuangan di sektor ini menunjukkan hasil yang solid.
Namun, tidak semua saham naik. Saham perusahaan asuransi kesehatan seperti Centene dan Humana ambles setelah Senat sepakat mengakhiri shutdown tanpa memperpanjang subsidi program Affordable Care Act (Obamacare).
Saham United Airlines dan American Airlines juga merosot karena masalah pemotongan penerbangan dan kekurangan staf pengatur lalu lintas udara akibat shutdown.
Terlepas dari kekhawatiran politik, musim laporan keuangan kuartal ketiga hampir selesai. Data menunjukkan bahwa sekitar 83 persen perusahaan di indeks S&P 500 melaporkan laba di atas perkiraan, menandakan fundamental perusahaan masih kuat.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 17,9 miliar saham, lebih rendah dibanding rata-rata 20,8 miliar saham selama 20 sesi terakhir , menandakan sebagian pelaku pasar masih menahan diri di tengah ketidakpastian politik dan kebijakan moneter.

