Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Taylah Preston Taklukkan Emma Raducanu Di Hobart

    January 15, 2026

    DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

    January 15, 2026

    Info Terbaru Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    January 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Akademisi Unmul Bedah Beda SBY dan Jokowi di Isu Militerisme

    Akademisi Unmul Bedah Beda SBY dan Jokowi di Isu Militerisme

    PewartaIDBy PewartaIDNovember 29, 2025No Comments1 Min Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Salah satu yang membahas topik itu adalah akademisi Universitas Mulawarman Saiful Bahri dalam diskusi publik dengan tajuk “Hubungan Sipil dan Militer dalam Demokrasi: Menguatnya Militerisme dan Ancaman Kebebasan” di Aula Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.


    Saiful Bahri dalam paparannya, membandingkan era kepemimpinan dua mantan Presiden, yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

    “Di mana SBY yang berlatarbelakang militer justru menampilkan kepemimpinan sipil dan menjaga sendi-sendi demokrasi,” kata Saiful dalam keterangan tertulis, Sabtu 29 November 2025.



    Sementara, kata dia, era Jokowi menunjukkan hal sebaliknya. Berasal dari kalangan sipil, menurutnya, militerisasi nampak kental di era Jokowi.

    “Sementara Jokowi sebagai representasi figur sipil justru menampilkan kepemimpinan militerisme dengan membuka ruang-ruang militerisasi dalam kehidupan sipil,” tuturnya.

    Sementara Gina Sabrina dari Tim Advokasi untuk Reformasi Sektor Keamanan menguraikan menguatnya militerisme dalam kebebasan berekspresi dan berpendapat. 

    Ia memaparkan kronik gejala militerisme dari monitoringnya sejak tahun 2018-2025. Menurutnya ancaman terhadap kebebasan berpikir, berekspresi dan berpendapat telah dimulai sejak 2018.

    “Tepatnya ketika TNI menyita buku-buku komunisme, dilanjutkan dengan penjagaan prajurit TNI semakin massif di aksi demonstrasi besar sejak 2019, seperti Omnibus Law, Reformasi Dikorupsi,” tandasnya.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

    January 15, 2026

    Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

    January 15, 2026

    Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

    January 15, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Taylah Preston Taklukkan Emma Raducanu Di Hobart

    Berita Olahraga January 15, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Tenis: Petenis tuan rumah yang menerima wildcard, Taylah Preston membuat penonton tuan rumah…

    DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

    January 15, 2026

    Info Terbaru Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    January 15, 2026

    Meski Masih Cedera, Niclas Fullkrug Berpeluang Tampil Melawan Como

    January 15, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Taylah Preston Taklukkan Emma Raducanu Di Hobart

    January 15, 2026

    DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

    January 15, 2026

    Info Terbaru Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    January 15, 2026

    Meski Masih Cedera, Niclas Fullkrug Berpeluang Tampil Melawan Como

    January 15, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.