
Aceh, CNN Indonesia —
Hamidah (44) tak pernah menyangka bahwa banjir yang menerpa daerahnya di Desa Blang Awee, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh begitu parah.
Banyak rumah hanyut, rusak berat hingga tertimbun lumpur yang menggunung. Secara geografis Desa Blang Awee memang terletak di pinggir sungai dan tidak terlalu jauh dari kantor Bupati Pidie Jaya.
Midah bercerita kejadian itu bermula pada Rabu (26/11) dinihari pukul 02:00 WIB hujan deras turun mengguyur. Saat itu mereka mengira hanya hujan biasa dan tidak akan membuat sungai Krueng Blang Awee meluap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sekitar pukul 06.00 WIB Midah dan warga terkejut karena air mulai masuk ke rumah-rumah dengan cepat dengan membawa material kayu hingga ranting pohon.
“Sekitar 2 jam air masuk ke rumah lalu saya kaget, ini airnya beda. Ini bukan air tapi lumpur,” kata Hamidah kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di tenda pengungsian, Sabtu (29/11).
Aliran lumpur itu membuat mobilitas orang di daerah itu jadi lambat. Mereka tak sanggup lagi untuk menyelamatkan harta benda dan hanya bisa mencari tempat yang lebih tinggi agar tidak terseret arus tepatnya di Kawasan Cot Rot Barat.
Setelah hampir 12 jam meninggalkan rumah, Midah kaget melihat desanya porak-poranda. Ada yang sudah tinggal tanah, tertimbun lumpur hingga roboh. Jalan tertutup lumpur sampai 1 meter.
“Desa kami hancur, warga di sini kehilangan semuanya. Kami butuh bantuan,” ucapnya.
Korban lainnya Nora juga tak mengira hujan yang mengakibatkan banjir di daerahnya separah itu. Biasanya, kata dia tidak sampai merendam pemukiman.
“Biasanya sampai sungai, tidak sampai ke permukiman,” katanya.
Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menyebutkan lebih dari 45 rumah di Desa Blang Awee rusak berat. Bahkan 90 persen desa tersebut hancur dan tak layak huni lagi.
Dari data yang masuk, dua warga di sana ditemukan meninggal dunia dan satu masih hilang.
“Semuanya memang rusak dan bahkan hilang terseret arus banjir. Ini 90 persen kampung ini hancur. Penduduk mengungsi ke titik Cot Rot Barat,” kata Sibral.
Dengan kondisi kampung yang tidak lagi layak huni, sebagian besar warga kini menempati titik pengungsian sementara. Kebutuhan logistik dan layanan kesehatan masih sangat dibutuhkan menyusul meningkatnya jumlah warga terdampak.
Pantauan CNNIndonesia.com kondisi lumpur yang menimbun Desa Blang Awee mulai di keruk oleh alat berat, karena lumpur yang menimbun desa itu mulai mengering.
Apalagi sejak Sabtu pagi cuaca di Pidie Jaya cerah berawan. Sementara logistik dan internet satelit pada Sabtu (29/11) siang mulai disalurkan ke warga. Kemudian listrik di daerah itu masih padam.
(dra/isn)
[Gambas:Video CNN]

