Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Arthur Fery Taklukkan Flavio Cobolli Di Melbourne

    January 18, 2026

    Denny JA Ungkap Akar Etika Kerja dan Kejujuran Swiss dari Reformasi Zurich

    January 18, 2026

    Prabowo Terbang ke Inggris, Bertemu Raja Charles III dan PM Keir Starmer : Okezone News

    January 18, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Mesin Ekonomi Triliunan Rupiah versus Ancaman Lingkungan Hidup

    Mesin Ekonomi Triliunan Rupiah versus Ancaman Lingkungan Hidup

    PewartaIDBy PewartaIDDecember 6, 2025No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Kontribusi industri sawit di Sumatera telah mengubah tatanan ekonomi regional secara drastis, menjadikannya pendorong pertumbuhan dan kesejahteraan.


    Dirangkum dari berbagai sumber, redaksi mencatat bahwa industri sawit di Sumatera menghasilkan “kue ekonomi” yang sangat besar, baik secara langsung (perkebunan) maupun tidak langsung (hilirisasi).

    Pertama, pencipta devisa dan PDB. Industri sawit secara keseluruhan menyumbang sekitar 3 persen terhadap PDB Nasional, dan merupakan penghasil devisa terbesar bagi Indonesia. Sumatera, sebagai pusat produksi yang menguasai 8,78 juta hektare, adalah kontributor utama di balik angka tersebut.



    Kedua, lumbung energi dan industri.  Provinsi seperti Sumatera Selatan sedang berupaya bertransformasi dari lumbung energi ‘di bawah tanah’ menjadi lumbung energi ‘di atas tanah’ melalui hilirisasi sawit menjadi biofuel dan oleokimia.

    Ketiga, pengentasan kemiskinan regional. Pertumbuhan ekonomi di daerah sentra sawit, seperti Riau dan Sumatera Utara, terbukti lebih tinggi dan signifikan dibandingkan daerah non-sawit. Di Riau, peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 10 persen mampu menurunkan persentase penduduk miskin sebesar 4,7 persen.

    Keempat, pencipta kelas menengah baru. Pengembangan perkebunan sawit mampu mengubah daerah terbelakang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan, menciptakan kelas berpendapatan menengah di kalangan petani, dengan pendapatan yang lebih tinggi dan berkelanjutan dibanding komoditas lain.

    Kelima, penyerapan tenaga kerja. Sektor perkebunan sawit menyerap jutaan tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, yang menjadi tulang punggung ekonomi di banyak kabupaten.

    Berdasarkan data Kementerian Pertanian, secara umum jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri sawit mengalami peningkatan yakni dari 12,5 juta orang pada tahun 2015 menjadi sekitar 16,5 juta orang pada tahun 2024. Dari jumla itu, tenaga kerja yang terserap pada perkebunan kelapa sawit Indonesia tersebut, sebanyak 9,7 juta orang merupakan tenaga kerja langsung. Angka tersebut terdiri dari 5,2 juta orang tenaga kerja perkebunan kelapa sawit rakyat dan 4,5 juta karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit milik negara ataupun milik swasta.

    Meskipun manfaat ekonomi sawit sangat besar dan transformatif, keberadaan perkebunan monokultur skala besar di Sumatera menimbulkan trade-off ekologis yang mahal, yaitu hilangnya keanekaragaman hayati.

    Penggantian hutan alami dengan perkebunan sawit menyebabkan penurunan drastis keanekaragaman hayati, mengganggu keseimbangan ekosistem dan memicu konflik satwa.

    Kerusakan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) juga memperparah risiko banjir dan erosi tanah, yang pada akhirnya merusak kualitas dan kesuburan tanah.

    Laporan penelitian mencatat, dampak pembuangan limbah pabrik kelapa sawit (PKS) juga menjadi ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup masyarakat di tingkat kabupaten.

    Sumatera adalah contoh nyata di mana industri sawit berperan sebagai motor penggerak utama ekonomi regional, menciptakan devisa dan mengangkat kesejahteraan petani. 

    Namun, keberlanjutan peran ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan korporasi untuk menyeimbangkan manfaat ekonomi triliunan Rupiah dengan tanggung jawab ekologis untuk mengendalikan deforestasi, konflik satwa, dan risiko bencana.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Denny JA Ungkap Akar Etika Kerja dan Kejujuran Swiss dari Reformasi Zurich

    January 18, 2026

    Banjir Rendam 12 Wilayah Kota Bekasi, Ratusan Warga Mengungsi

    January 18, 2026

    KPK Masih Kuliti Dugaan Rasuah BPKH

    January 18, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Arthur Fery Taklukkan Flavio Cobolli Di Melbourne

    Berita Olahraga January 18, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Tenis: Arthur Fery memetik kemenangan pertama musim 2026 di Australian Open, Melbourne usai…

    Denny JA Ungkap Akar Etika Kerja dan Kejujuran Swiss dari Reformasi Zurich

    January 18, 2026

    Prabowo Terbang ke Inggris, Bertemu Raja Charles III dan PM Keir Starmer : Okezone News

    January 18, 2026

    Banjir Rendam 12 Wilayah Kota Bekasi, Ratusan Warga Mengungsi

    January 18, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Arthur Fery Taklukkan Flavio Cobolli Di Melbourne

    January 18, 2026

    Denny JA Ungkap Akar Etika Kerja dan Kejujuran Swiss dari Reformasi Zurich

    January 18, 2026

    Prabowo Terbang ke Inggris, Bertemu Raja Charles III dan PM Keir Starmer : Okezone News

    January 18, 2026

    Banjir Rendam 12 Wilayah Kota Bekasi, Ratusan Warga Mengungsi

    January 18, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.