Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai gejolak tersebut muncul baik dari sisi politik maupun ekonomi.
“Pemerintahnya Presiden Prabowo sejak awal masa jabatan sudah dihadapkan pada tekanan politik sangat tinggi, fragmentasi koalisi, kegelisahan pasar, serta kritik terutama dari ruang digital yang pengaruhnya kian menentukan,” kata Hersubeno dalam YouTube Hersubeno Point pada Senin, 5 Januari 2026.
Ia menegaskan dalam kondisi tersebut, target pertumbuhan ekonomi 8 persen hampir mustahil tercapai.
“Kalau Pak Prabowo menargetkan 8 persen, itu dipastikan tidak mungkin. Sekarang yang 6 persen saja sudah sangat berat,” ujar Hersubeno.
Pasalnya, hampir seluruh lembaga ekonomi baik internasional maupun domestik memproyeksikan pertumbuhan Indonesia berada di bawah 6 persen, bahkan berpotensi di bawah 5 persen.
“Hampir semua proyeksi lembaga kredibel menempatkan Indonesia pada satu kesimpulan besar: ekonominya memang masih stabil, tetapi ruang akselerasinya sempit,” tandasnya.
Untuk diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi RI di kisaran 5,1 tahun ini, sementara Bank Dunia di kisaran 4,8-5 persen, dan Asian Development Bank (ADB) di 5 persen. Sementara LPEM UI di angka 4,9-5 persen dan INDEF memperkirakan sekitar 5 persen.

