Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Jangan Mudah Ubah Tanpa Kajian

    January 8, 2026

    Daniel Farke Sebut Leeds Kurang Hoki Usai Kalah Dramatis di Newcastle

    January 8, 2026

    Akademisi UGM Dorong Penguatan Mata Kuliah Ekonomika Koperasi

    January 8, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Doktrin Monroe Runtuh

    Doktrin Monroe Runtuh

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 7, 2026No Comments6 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Pesawat militer Rusia mendarat di landasan Venezuela bukan sebagai penyusup, melainkan sebagai tamu yang diundang. Kapal perang Rusia berlabuh bukan untuk pamer bendera akhir pekan, melainkan untuk operasi berulang. Para penasihat militer Rusia tidak sekadar datang memberi salam, tetapi tinggal, mengajar, memperbaiki, dan menyatukan sistem komando.


    Di titik inilah Washington terkejut: halaman belakangnya ternyata sudah punya pagar baru, dan kuncinya bukan di saku Amerika.

    Selama hampir dua abad, Amerika Serikat hidup nyaman di bawah selimut keyakinan bahwa Belahan Barat adalah ruang privatnya, sebuah batas psikologis sekaligus strategis yang tak perlu terus dijaga karena dianggap alamiah. Doktrin Monroe, yang lahir di abad ke-19, bukan sekadar kebijakan luar negeri; ia adalah mantra pengusir “kekuatan besar” asing.



    Doktrin Monroe, yang diumumkan pada tahun 1823 di bawah Presiden James Monroe, pada dasarnya adalah pernyataan sederhana yang kemudian menjelma menjadi fondasi psikologis kekuasaan Amerika Serikat di Belahan Barat. Intinya bukan sekadar “Eropa jangan ikut campur”, melainkan klaim diam-diam bahwa seluruh Amerika Latin adalah ruang strategis eksklusif Washington.

    Sejak saat itu, wilayah ini tidak lagi dipandang sebagai kumpulan negara berdaulat semata, melainkan sebagai “lingkungan keamanan” Amerika sendiri, sebuah halaman belakang yang, jika dimasuki pihak lain, dianggap ancaman terhadap rumah induk.

    Dalam praktik sejarah, doktrin ini tidak pernah tinggal sebagai kalimat normatif. Ia menjelma menjadi kebiasaan politik: intervensi, kudeta, sanksi, tekanan ekonomi, hingga operasi militer terbuka, dari Karibia sampai Amerika Tengah, dari Kuba hingga Panama, dari Chile hingga Nikaragua.

    Amerika terus mengulang satu asumsi: tidak boleh ada kekuatan besar non-Amerika yang memiliki pijakan militer atau pengaruh strategis permanen di kawasan ini. Ketika Uni Soviet menempatkan rudal di Kuba pada 1962, dunia hampir terbakar bukan karena Kuba, melainkan karena Washington memandangnya sebagai pelanggaran langsung terhadap wilayah sakral Doktrin Monroe.

    Dalam konteks inilah Venezuela hari ini menjadi anomali yang memalukan bagi Washington. Pasalnya, Rusia hadir bukan sebagai tamu sesaat, melainkan sebagai mitra militer struktural: melatih perwira, memelihara sistem senjata, dan menyatu dalam rantai komando. China, di sisi lain, datang tidak dengan kapal perang, melainkan dengan kredit, infrastruktur, pembelian minyak, serta jaringan ekonomi yang membuat Caracas tetap bernapas meski disanksi.

    Venezuela tidak sekadar “bersahabat” dengan dua kekuatan besar ini; ia menggantungkan mekanisme bertahannya pada mereka. Dalam logika Monroe klasik, ini bukan sekadar penyimpangan. Ini pelanggaran terang-terangan.

    Namun ironi geopolitik abad ke-21 adalah ini bahwa Doktrin Monroe masih diyakini secara retoris, tetapi tidak lagi bisa ditegakkan secara praktis. Mengusir Rusia berarti konfrontasi langsung dengan kekuatan nuklir; menekan China berarti benturan dengan mesin ekonomi dunia.

    Sanksi yang dulu mematikan kini hanya melukai jaringan Barat, sementara Venezuela telah membangun jalur hidup alternatif. Amerika tetap paling kuat, tetapi kekuatannya tidak lagi otomatis menjadi kendali. Ia seperti polisi raksasa yang tiba di TKP hanya untuk menemukan bahwa pintu sudah diganti kunci, dan kunci cadangannya tak lagi berlaku.

    Rusia dan China, dengan gaya berbeda, justru merongrong Monroe bukan lewat deklarasi perang, melainkan melalui fakta administratif. Rusia menaikkan “harga” intervensi Amerika dengan kehadiran militer yang membuat setiap opsi keras berisiko global. China mengosongkan efektivitas isolasi ekonomi dengan menyediakan pasar, pembiayaan, dan infrastruktur.

    Jika Rusia merusak Monroe di level keamanan, China menggerogotinya di level struktur ekonomi. Keduanya tidak berteriak menentang doktrin itu; mereka sekadar hidup di dalam celah-celahnya sampai doktrin tersebut kehilangan fungsi.

    Maka, dalam drama Venezuela hari ini, Doktrin Monroe tidak mati secara resmi, tetapi juga tidak hidup secara operasional. Ia berubah dari prinsip geopolitik menjadi artefak historis, masih dikutip, masih diyakini secara emosional, tetapi tak lagi mampu mengatur realitas.

    Amerika Serikat belum kehilangan pengaruhnya di kawasan, tetapi telah kehilangan kepastian bahwa pengaruh itu otomatis dan tak tertandingi. Venezuela menunjukkan bahwa halaman belakang pun bisa berubah menjadi persimpangan global ketika tekanan menggantikan dialog, dan kekuasaan diasumsikan abadi.

    Sejarah punya selera humor yang dingin: mantra yang terlalu lama dibacakan tanpa evaluasi akan kehilangan efeknya. Ketika Rusia, negara yang oleh sanksi digambarkan sekarat, beroperasi bebas di Venezuela dengan persetujuan negara berdaulat Amerika Latin, krisis sesungguhnya bukanlah keberanian Moskow, melainkan ketidakmampuan Washington menghentikannya.

    Ironinya, pintu itu dibuka bukan oleh intrik Rusia semata, melainkan oleh kebiasaan lama Amerika sendiri: mengganti diplomasi dengan hukuman. Puluhan tahun tekanan, embargo, dan mimpi pergantian rezim tidak menjatuhkan Caracas; justru memaksa Venezuela mencari sandaran lain.

    Negara yang disudutkan tidak berhenti berfungsi, tapi ia beradaptasi. Ketika akses ke teknologi Barat terputus, suku cadang Rusia masuk. Ketika dolar dikunci, kanal pembayaran alternatif dibuka. Ketika legitimasi dipersempit, perlindungan militer dicari.

    Hasilnya bukan aliansi sesaat, melainkan ketergantungan struktural. Pesawat Venezuela tak terbang tanpa suku cadang Rusia, pertahanan udara tak bernyawa tanpa teknisi Rusia, dan pencegah intervensi berdiri karena kehadiran Rusia menaikkan biaya aksi Washington.

    Di sinilah salah kaprah paling mahal terjadi. Amerika mengira tekanan otomatis berbuah kepatuhan. Sejarah berkata sebaliknya: tekanan sering melahirkan reorientasi. Ketika jalan keluar ditutup rapat, alternatif berubah menjadi permanen. Maka Rusia tidak perlu “menaklukkan” Venezuela; ia cukup menjadi tak tergantikan karena pelan, presisi, dan murah.

    Sementara itu Tiongkok memainkan peran pelengkap yang jika Rusia menyediakan payung militer, Beijing menyediakan oksigen ekonomi. Senjata dan pertahanan dari Moskow; pembiayaan, infrastruktur, dan penyerapan minyak dari Beijing. Dua kaki ini membentuk ekosistem yang kebal terhadap isolasi Barat.

    Angka-angka memperjelas paradoksnya. Ekonomi Venezuela menyusut sekitar 70-75% sejak 2013; hiperinflasi pernah menembus jutaan persen; enam hingga tujuh juta warganya bermigrasi. Produksi minyak jatuh dari lebih tiga juta barel per hari menjadi sekitar tiga perempat juta.

    Namun negara itu tidak runtuh total. Mengapa? Karena ekspor minyak tetap mengalir melalui kanal alternatif yaitu logistik dan perantara Rusia, sistem non-dolar, yang cukup untuk membiayai aparatus kekuasaan.

    Militer Venezuela, yang telah membeli belasan miliar dolar perangkat Rusia sejak 2000-an, mengoperasikan jet tempur, helikopter, dan pertahanan udara canggih. Bahkan pembom strategis Rusia berjangkauan jauh sempat berlatih di pangkalan Venezuela, adegan yang dulu hanya ada di album nostalgia Perang Dingin.

    Dari sudut pandang Caracas, semua ini adalah konfirmasi: perlindungan itu nyata. Dari sudut pandang Washington, pilihan menyempit. Eskalasi militer berisiko konflik langsung dengan Rusia; eskalasi ekonomi memberi hasil kian menipis; isolasi diplomatik gagal karena Venezuela tidak lagi sendirian.

    Inilah stalemate strategis bahwa kekuatan besar masih ada, tetapi opsi yang dapat dipakai berkurang. Doktrin Monroe tidak ditantang dengan tembakan, melainkan digerogoti oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak sandar, dan pengapalan minyak, fakta-fakta kecil yang, ketika menumpuk, tak bisa dihapus oleh pidato.

    Dampaknya menjalar. Di dalam negeri, rezim bertahan, masyarakat tetap rapuh: negara hidup, warga tertatih. Di kawasan, Venezuela berubah dari kisah peringatan menjadi bukti konsep bahwa tekanan Amerika bisa disiasati jika alternatif tersedia. Senjata Rusia tanpa syarat politik; pembiayaan Tiongkok tanpa khotbah tata kelola, opsi-opsi ini kini dipelajari.

    Ketika asumsi lama runtuh, pengaruh menjadi dapat ditawar, dan kompetisi memasuki ruang yang dulu sunyi. Secara global, inilah rupa multipolaritas yang sebenarnya: bukan deklarasi megah, melainkan jaringan paralel yang mengencerkan daya paksa.

    Apakah ini akhir pengaruh Amerika? Tidak. Tetapi ini akhir masa ketika pengaruh itu dijamin. Imperium jarang jatuh karena serangan frontal; ia melemah ketika menghukum disangka mengendalikan. Sejarah, rupanya, tidak selalu berteriak. Kadang ia datang dengan kapal, berlabuh tenang, lalu tinggal.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Akademisi UGM Dorong Penguatan Mata Kuliah Ekonomika Koperasi

    January 8, 2026

    Panglima TNI Berencana Bentuk Batalyon Khusus Olahraga

    January 8, 2026

    Kader PDIP Nyumarno Mangkir dari Panggilan KPK

    January 8, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Jangan Mudah Ubah Tanpa Kajian

    Berita Teknologi January 8, 2026

    Jakarta, CNN Indonesia — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir merespons usulan partai politik (parpol) agar pemilihan…

    Daniel Farke Sebut Leeds Kurang Hoki Usai Kalah Dramatis di Newcastle

    January 8, 2026

    Akademisi UGM Dorong Penguatan Mata Kuliah Ekonomika Koperasi

    January 8, 2026

    LMKN Dilaporkan ke KPK, DJKI: Pembagian Royalti Mesti Berdasar Kelengkapan Data : Okezone News

    January 8, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Jangan Mudah Ubah Tanpa Kajian

    January 8, 2026

    Daniel Farke Sebut Leeds Kurang Hoki Usai Kalah Dramatis di Newcastle

    January 8, 2026

    Akademisi UGM Dorong Penguatan Mata Kuliah Ekonomika Koperasi

    January 8, 2026

    LMKN Dilaporkan ke KPK, DJKI: Pembagian Royalti Mesti Berdasar Kelengkapan Data : Okezone News

    January 8, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.