Hal itu ia ungkapkan dalam acara panen raya sekaligus peresmian Swasembada Pangan 2025 di Karawang, Jawa Barat, Rabu, 7 Januari 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menuturkan bahwa setelah memimpin pemerintahan, ia semakin memahami besarnya potensi kekayaan bangsa.
Namun, ia juga merasa sedih karena banyak kekayaan tersebut tidak dikelola dengan baik sehingga mengalami kebocoran.
“Setelah saya mengambil alih pemerintahan, saya lebih paham, lebih mengerti atas kekayaan-kekayaan kita. Tapi saya prihatin, saya sedih bahwa banyak kekayaan kita yang tidak pandai kita kelola sehingga banyak kekayaan kita yang bocor,” ujar Prabowo.
Sejak lama ia merasakan adanya kejanggalan dalam tata kelola sumber daya nasional. Prabowo menekankan ironi besar, di tengah limpahan kekayaan alam yang melimpah, masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan.
“Saya melihat sudah berapa puluh tahun negara yang begini kaya, rakyatnya masih banyak yang miskin. Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya bagaimana negara yang begini makmur tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia,” tegasnya.
Prabowo juga menyinggung ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan, meski memiliki tanah yang subur dan sumber daya melimpah.
“Terutama yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor, impor pangan. Tidak masuk di hati saya, tidak masuk di akal saya,” ucapnya.

