Langkah de-eskalasi ini terjadi hampir seminggu setelah pasukan AS melakukan operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Keduanya saat ini diketahui berada dalam tahanan otoritas Amerika Serikat.
Dalam keterangan resminya pada Jumat 9 Januari 2026 waktu setempat, Trump mengungkapkan bahwa awalnya Washington telah bersiap untuk melancarkan serangan susulan dengan skala yang lebih masif.
“Kami siap melancarkan serangan kedua dan jauh lebih besar jika perlu. Kami sebenarnya berasumsi gelombang kedua akan diperlukan, tetapi sekarang mungkin tidak,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari CNN, Sabtu 10 Januari 2026.
Melalui unggahannya di platform Truth Social, Trump menekankan bahwa arah hubungan kedua negara kini bergeser ke arah pemulihan ekonomi, khususnya pada sektor energi. AS dan Venezuela mulai menjalin koordinasi dalam rencana pembangunan kembali infrastruktur minyak dan gas yang vital bagi negara tersebut.
“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan gelombang serangan kedua yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi,” tulis Trump. Meski demikian, ia menegaskan bahwa armada kapal dan pasukan militer AS tetap dalam posisi siaga demi menjamin keamanan.
Trump juga memuji langkah Venezuela yang mulai membebaskan tahanan politik dalam jumlah besar. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai isyarat perdamaian yang sangat penting dan cerdas.
Pemerintah sementara Venezuela mengonfirmasi bahwa proses pembebasan tahanan, termasuk sejumlah tokoh oposisi, telah dimulai sejak Kamis. Langkah ini merupakan bagian dari upaya meredakan ketegangan politik yang memuncak pasca-penggulingan Maduro.
Terkait arah politik ke depan, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memimpin transisi di Venezuela untuk sementara waktu hingga kepemimpinan baru terbentuk secara resmi.
Namun, Trump memberikan catatan bahwa keterlibatan militer belum sepenuhnya berakhir. Fokus operasi militer AS kini berpotensi bergeser pada sasaran baru, yakni kartel narkoba di wilayah daratan, setelah sebelumnya sukses melancarkan serangan terhadap armada kapal yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan gelap tersebut.

